agus triyatno

sebuah catatan perjalanan hidup

Namanya Inah

Namanya Inah. Sebut saja begitu karena bukan nama yang diberikan orangtuanya. Ini hanya nama yang aku berikan kepadanya. Dirinya pernah mengalami kasih dan sayang dari seorang pria. Pria itu senantiasa memberikan perhatian kepada Inah. Di saat Inah butuh teman, pendamping, nasehat, maka pria inilah yang menemaninya. Hingga suatu saat mereka berakad akan menikah. Hanya karena masih kuliah maka akad tersebut ditunda dan hanya menjadi kesepakatan bersama yang tak tertulis di kantor Catatan Sipil atau KUA. Meski begitu, hari-hari mereka tetap indah dirasakan.

Namun, yang dialami Inah selanjutnya tak sebagus sebelumnya. Tanpa disadarinya sang Pria menjalin hubungan serius dengan perempuan lain. Ternyata perempuan itu teman Inah. Alamak! Patah hatilah si Inah ini. Pada saat tersebut sang Pria belum memutuskan hubungan dengan Inah. Jadi, Inah mengira semua baik-baik saja. Ternyata tidak demikian adanya.

Hal itu sudah lama berlalu. Inah sudah mulai bisa menerima kenyataan bahwa Pria itu bersama teman Inah dan mempersiapkan pernikahan. Namun, ini bagai jerawat di wajah. Kalau tak dipelihara kebersihannya maka akan timbul kembali. Seperti saat ini. Jiwa Inah kembali terguncang. Kesal, marah, sedih, semua energi negatif berkumpul mengadakan kongres di hati Inah. Disepakati berdasarkan hasil konsesi di hati Inah bahwa energi negatif itu mesti dikeluarkan. Terjadilah kiamat. Jiwa Inah bagai bumi yang digoncangkan dengan goncangan yang dasyat. Bumi itu memuntahkan segala yang dikandungnya. Inah sendiri tak mengerti apa yang terjadi. Hingga salah satu energi negatif itu memberitakan bahwa inilah hasil konsesi seluruh energi negatif di hati Inah.

Betapa kaget diriku ketika sebuah pesan pendek parkir di layar monitor telepon genggamku. Nomornya tak ada di catatan buku telepon. Ehm, pesan siapakah gerangan? Aku buka dan membacanya. Di bawah pesan itu tertulis nama pengirimnya: Inah. Sudah aku tebak. Setiap jerawat itu muncul ke permukaan hati Inah, dengan lugas Inah mengirim kabar kepadaku tentang jerawat ini.

Jerawat kali ini sama saja dengan jerawat-jerawat sebelumnya. Masih berkisar sakit hati karena mendengar kabar tentang hubungan sang Pria yang dulu dengan perempuannya. Entah kenapa jerawat itu timbul seketika ketika ada kabar mengenai mereka.

Beberapa hari sebelumnya aku juga mendapat pesan dari Inah. Katanya, Inah sedang marah dan ingin meredakan marah itu. Aku katakan supaya jangan marah kepada Inah. Ini aku bilang sampai tiga kali. Lalu, bila marah juga sambil berdiri maka duduklah. Bila masih marah maka berbaringlah. Jika belum sembuh juga maka berwudhu dan shalat. Tobat!

Sekarang Inah menangis karena teringat mereka lagi. Aku bisa bilang ke Inah bahwa kita mengangis dengan dua sebab. Pertama, bersyukur karena dipilih oleh Allah untuk mengahisi dan menyayangi makhluk-Nya. Tak usah berpikir apakah makhluk-Nya itu mengasihi dan menyayangi kita. Kasih dan sayang itu milik Allah yang dianugerahkan kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Kalau bukan kita yang mengasihi dan menyayangi makhluk-Nya masih banyak ciptaan Allah yang lain untuk mengasihi dan menyayangi makhluk-Nya tersebut.

Bersyukur itu bisa diwujudkan dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah. Ditambah dengan perbanyak ta’at hanya kepada Allah.

Sebab kedua, yaitu menyesal karena selama ini tidak memenuhi hak Allah. Padahal kita menuntut supaya hak kita dipenuhi oleh makhluk-Nya untuk mengasihi dan menyayangi diri kita. Selama ini kita sudah mengasihi dan menyayangi dia, kenapa dia tidak mengasihi dan menyayangi diri kita? Di sini kita mau menang sendiri. Kita lupa kalau semua makhluk ciptaan Allah. Dengan begitu, Allah sangat berkuasa atas diri makhluk. Allah yang menghendaki kita mengasihi dan menyayangi makhluk-Nya. Allah juga yang menghendaki dia tidak mengasihi dan menyayangi diri kita. Jadi, yang perlu kita pikirkan adalah kenapa Allah menghendaki kita mengasihi dan menyayangi makhluk-Nya, sedangkan makhluk-Nya yang kita kasihi dan sayangi itu tidak membalas rasa kasih sayang kita. Bisa jadi hal ini terjadi karena kita melupakan hak Allah. Kita justru sibuk kepada makhluk dan mengabaikan Pemilik makhluk. Kalau begitu, pantaslah. Pemilik makhluk marah kepada kita.

Menyesal berarti bertobat memohon ampun. Selain itu, kita hindari kesalahan lagi supaya Pemilik makhluk yang berarti juga Pemilik diri kita, tidak marah dan justru malah sayang kepada diri kita. Dengan begitu, hidup kita bisa bermanfaat. Insya Allah.

Di akhir pesanku itu, aku menanyakan kepada Inah tentang nomor telepon yang digunakannya untuk mengirim pesan kepadaku. Lama pesanku ini tak berbalas. Sampai melewati batas malam barulah Inah mengirim pesan kepadaku bahwa nomor itu adalah miliknya.

Aku pun menelponnya. Sedikit bercerita. Tadinya hanya kejadiannya saja. Setelah lama ditunggu-tunggu barulah Inah cerita sebab kenapa dia bersedih. Awalnya bertemu seorang kawan. Kawan itu bercerita kalau pasangan Pria yang dulu dengan perempuan itu akan segera menikah. Namun, tak jelas kapan tanggal dan hari pelaksanaannya. Sejak itulah Inah jadi terngiang-ngiang kabar itu yang belum tentu benar. Oleh sebab, beberapa hari sebelumnya Inah chatting dengan perempuan itu dan tidak ada kabar tentang pernikahan dengan Pria itu.

Pembicaraanku dengan Inah melalui telepon terputus karena ada yang menelpon Inah melalui nomor yang lain. Inah ingin menjawab telepon itu. Akhirnya, aku saja yang mengalah. Aku matikan telepon. Putuslah pembicaraan antara aku dengan Inah.

25 April, 2009 Ditulis oleh agus triyatno | catatan perjalanan | | Belum Ada Tanggapan

Bocah Ramai Mengaji

Masih di kota Dumai, Riau. Beberapa hari terkurung dalam kamar hotel sebenarnya tak terlalu betul bagi kehidupanku belakangan ini. Memang tak ada kepastian hukum bahwa aku mesti tinggal di kamar hotel sepanjang hari. Tapi, ini dari diriku sendiri. Tak enak rasanya meninggalkan dua orang kawanku di kamar hotel. Kami bukan sedang liburan. Tapi, menghindari konflik dengan agen dan petani sawit yang belum kami bayar sawitnya. Sudah lebih seminggu belum kami bayar. Jumlahnya mungkin sekarang sudah melewati angka satu miliar rupiah.

Kami keluar hotel kala harus memenuhi ruang perut kami dengan makanan dan minuman. Sedang bagiku pribadi, aku keluar hotel juga saat menunaikan shalat lima waktu. Kebetulan ada masjid dekat hotel.

Setelah melewati beberapa hari dalam rutinitas yang sama maka aku mulai bisa menuliskan kejadian berulang di masjid. Biasanya adzan subuh dua kali. Kemudian ada jeda waktu menjelang iqamat untuk menyilakan jamaah untuk shalat sunat sebelum shalat subuh. Di sini shalat subuh tak pakai do’a qunut. Maklum masjid ini terletak di lingkungan sekolah milik yayasan Muhammadiyah.

Memasuki shalat zuhur ada jeda waktu yang sama dengan waktu subuh. Jamaah diberi kesempatan mengerjakan shalat sunat sebelum shalat wajib. Begitu juga dengan shalat ashar.

Beda dengan shalat maghrib dan isya’. Tak ada toleransi untuk shalat sunat sebelum shalat wajib. Setelah adzan, berdoa sebentar, langsung iqamat.

Setelah shalat maghrib, suasana di majid riuh rendah dengan suara bocah yang belajar mengaji. Lelaki perempuan jadi satu. Tumplek blek. Duduk di lantai. Membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Lingkaran itu berdasarkan usia. Materi pelajaran pun berbeda antar kelompok. Malam ini terdengar suara orang ramai mengaji Al Qur’an dan menghapal bacaan shalat. Ah, rasanya sudah lama aku tak menjumpai hal seperti ini lagi di kota yang biasa aku lintasi di pusaran Jabodetabek.

Saat melintasi bocah-bocah yang sedang belajar mengaji itu nampak suara meninggi sedang marah-marah. Gurunya masih muda. Mungkin sekolah setingkat SMP atau SMU. Menghadapi dua bocah laki-laki. Jika dilihat dari keseluruhan murid yang belajar, dua bocah laki-laki ini paling besar tubuhnya.

Guru muda tadi memegang gagang yang mungkin bambu atau rotan. Selama mengajar tak pernah lepas tangannya memegang itu. Dua bocah laki-laki tadi nampaknya sedang dihukum oleh Guru muda tadi. Lucunya, dua bocah laki-laki tadi mengangkat salah satu kaki masing-masing. Aduh, aku berpikir ternyata masih ada saja hukuman seperti itu.

Aku terus berjalan keluar masjid. Kembali ke kamar hotel. Suara riuh rendah bocah-bocah mengaji sudah mulai pelan terdengar. Berganti suara burung wallet yang sekarang mengiringi langkahku.

15 April, 2009 Ditulis oleh agus triyatno | catatan perjalanan | | 1 Komentar

Hutang Janji Imah

Hari itu masih pagi. Udara di luar rumah terasa dingin. Matahari juga masih malu-malu meski hanya untuk menyembul sedikit dari balik awan. Beberapa pintu kamar kawanku masih tertutup rapat. Aku sendiri sudah tergeletak di lantai depan televise menonton film kartun.

Seorang kawan membuka pintu kamarnya. Dia keluar masuk ke kamar mandi. Terdengar suara gemericik air. Aku masih geletak di lantai. Kawanku tadi keluar dari kamar mandi. Berjalan masuk ke dalam kamarnya. Pintu kamarnya ditutup kembali. Tak jelas habis melakukan apa di kamar mandi.

Menjelang jam 7:30 WIB. Aku masuk ke dalam kamarku. Ada seorang kawan sedang tidur. Di kamarku ini ada dua orang penghuni. Aku dan seorang kawan. Membuka jendela supaya ada udara masuk. Tak peduli seorang kawanku yang sedang tidur di kamarku merapatkan ringkukan tubuhnya karena kedinginan.

Aku tengok telepon genggam yang terselip di antara buku-buku di atas lemari baju. Ah, ada tanda pesan masuk. Ehm, pagi-pagi begini sudah dapat pesan. Aku baca pesan itu. Ternyata pesan dari Imah yang sudah aku tunggu selama dua belas hari belakangan ini.

Saat aku baca pertama kali agak terkejut karena dari nomor yang aku tak kenal. Setelah baca pesannya maka sangat jelas siapa pengirimnya, yaitu Imah. Pesan itu berkali-kali masuk dengan isi yang sama. Entah kenapa begitu. Mungkin Imah sangat buru-buru dan ingin memastikan bahwa pesannya benar-benar diterima dan dibaca olehku. Ada pula tanda panggilan tak terjawab dari nomor yang sama dipakai Imah.

Beberapa pesan yang sampai itu terputus kalimat akhirnya. Hanya ada satu pesan yang utuh diterima. Aku baca pesan yang utuh itu. Inilah jawaban yang aku tunggu-tunggu selama ini. Tapi ternyata jawaban itu tidak sesuai dengan yang aku harapkan. Inilah kali kedua Imah tidak mau menepati janjinya tanpa ada alasan yang diungkapkan. Aku langsung menelponnya. Ada nada sambung tapi tak diangkat. Aku telpon ke nomor yang biasa dipakai juga ada nada sambung tapi tak diangkat. Terus-menerus aku coba menelpon sampai akhirnya diangkat oleh Imah.

Panjang lebar aku menelpon Imah. Sempat terputus. Tapi aku segera telpon lagi dan diangkat oleh Imah. Terjadi percakapan. Sekali lagi Imah tak ungkapkan alasan atas keputusannya itu.

Sebenarnya hal ini berawal hampir setahun yang lalu. Persoalannya sederhana saja. Ada perjanjian tak tertulis di antara aku dan Imah. Setelah menjalin hubungan yang cukup lama akhirnya Imah meminta diriku untuk menikahinya. Imah mensyaratkan supaya ada kepastian karena pada saat itu tak ada kepastian kapan waktunya kami menikah. Imah ingin agar kabar kepastian diriku melamarnya sudah disampaikan tanggal kelahirannya di bulan Agustus tahun itu. Dengan begitu, diharapkan pada bulan berikutnya saat pulang mudik Idul Fitri, Imah bisa menyampaikan kabar itu kepada Mamahnya yang tinggal di Jawa Tengah. Kalau tidak ada kejelasan sampai akhir tahun maka dengan sendirinya hubungan yang sudah terjalin harus berakhir.

Aku sanggupi syarat itu. Aku dekati orangtuaku, kakak dan adikku. Lebih tepatnya merayu mereka supaya mereka merestui rencana pernikahan aku dengan Imah. Dengan susah payah akhirnya mereka semua merestui. Hal ini aku sampaikan satu bulan lebih cepat dari waktu yang ditentukan Imah. Saat aku kabari Imah malah nampak bingung. Dia minta waktu untuk berpikir lagi tentang keputusan menikah denganku. Karena aku saying Imah, maka aku berikan tenggat waktu kepada Imah untuk memikirkan kembali. Dipilih waktu satu Minggu bagi Imah untuk berpikir.

Selama berpikir itu aku hubungi Imah seperti biasa lewat telepon. Tapi Imah seperti menjauh dariku. Lebih banyak tak mau menerima telepon dariku. Kalaupun menerima telepon dariku seperti orang lain saja. Tak akrab seperti biasanya. Ada apa ini?

Seminggu berselang. Imah memutuskan untuk tidak jadi menikah denganku. Kontan saja aku terbelalak dengan keputusannya itu. Apa-apaan ini? Tiba-tiba saja Imah menolak dan tanpa alasan pula. Aku minta penjelasan tapi Imah menolak. Dia cuma berulang kali mengatakan tentang keputusannya saja. Titik.

Aku terus meminta penjelasan. Tak terasa berhari-hari lamanya. Justru permintaanku ini dianggap sebagai teror dan intimidasi. Gila. Bagaimana bisa ini terjadi? Padahal masalahnya sederhana saja. Segala tuntutan Imah supaya aku sungguh-sungguh menikahinya sudah aku penuhi bahkan lebih cepat dari batas waktu yang telah ditetapkan. Tapi, setelah itu semua dipenuhi tiba-tiba saja Imah mengingkari janjinya untuk menikah denganku.

Begitulah yang terjadi hampir setahun yang lalu. Aku bukannya diam saja walau Imah dengan segala cara mencoba menghindari aku. Memutuskan segala hubungan komunikasi dan interaksi denganku. Tapi tetap saja aku bisa melacaknya.

Nah, pada saat inilah hal itu berulang. Ketika aku mulai menelpon dia menanyakan keputusan yang lalu. Imah tetap tak bergeming. Aku kuatkan alasan dan aku minta alasannya. Pada akhirnya Imah pun membuka kesempatan kedua. Dia ingin berpikir ulang lagi tentang keputusannya menolak menikah denganku.

Kejadiannya adalah yang seperti yang aku ceritakan barusan. Dia tetap menolak tanpa alasan. Menurutnya pada saat dirinya berpikir meminta petunjuk Tuhan maka yang ada adalah kecenderungan untuk menolak. Saat aku bilang bahwa aku pun petunjuk Tuhan dan hasilnya adalah menikah, ada satu hal yang mengagetkan diriku. Imah berucap kalau Tuhanku dan Tuhannya berbeda. Gila! Inilah hal gila yang pernah aku dengar dari Imah. Aku dan Imah satu agama. Artinya satu Tuhan.

Keheranan aku pada Imah belum berakhir. Pada saat menanyakan tentang janji Imah untuk menerima menikah denganku setelah aku penuhi syaratnya hampir setahun yang lalu, Imah malah menggugat janjinya itu. Bahkan Imah berani menantang untuk dihisab di hari kiamat tentang janjinya itu. Gila! Benar-benar aku tak percaya.

Telpon aku dengan Imah berakhir. Tapi keherananku belum berakhir. Aku masih berkirim pesan kepadanya. Aku masih merasa bahwa aku ada hak untuk menikahi Imah setelah aku penuhi syarat yang diajukannya. Seperti cerita rakyat tentang Roro Jongrang Candi Prambanan. Roro Jongrang yang menuntut syarat untuk membuatkan seribu candi dalam waktu semalam maka akan menjadi swaminya. Ketika ada seorang lelaki yang sanggup mengerjakannya Roro Jongrang berlaku curang. Dia mencari cara untuk menggagalkan pekerjaan tersebut. Dia suruh orang-orang menumbuk padi hingga terdengar suara ayam berkokok. Dengan begitu, Roro Jongrang mengaggap lelaki itu gagal padahal sebenarnya hari masih gelap dan hanya satu candi saja yang belum dibuat. Karena merasa haknya dipermainkan maka lelaki itu tidak terima dan dijadikanlah Roro Jongrang sebagai candi pelengkap ke-seribu.

Aku pun tak bisa terima begitu saja. Secara sederhana yang aku minta kepada Imah hanya hak aku atas janjinya di tahun yang lalu yang belum dipenuhinya sampai saat ini. Tapi, setiap aku mengirim pesan mengingatkan hal itu Imah selalu membalas pesan yang isinya tentang keputusannya itu, yaitu menolak menikah. Jadi, bukanlah salahku bila aku terus menerus mengirim pesan mengingatkan kewajibannya untuk tetapi janjinya. Salahnya Imah sendiri jika hidupnya tak tenang karena ini. Di mana-mana orang yang memiliki hutang – baik hutang harta atau janji – tak akan hidup tenang selama hutangnya itu belum dilunasi.

11 April, 2009 Ditulis oleh agus triyatno | cerita pendek | | Belum Ada Tanggapan

Aku dan Dia Bertemu di Dunia Maya

Malam ini betapa aku merasa malang sekali nasibku. Di rumah mes ini aku tinggal sendiri. Tiga kawanku sengaja tidak pulang karena mereka takut ditagih hutang buah sawit yang belum dibayar yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan aku dengan pula bahwa ada seorang agen ram buah sawit yang tak berani pulang dari pabrik ini karena di rumahnya ditunggui oleh para petani yang menagih sawitnya dibayar tunai. Masalahnya ada di kantor pusat di Jakarta yang tak mengirimkan uang untuk pembelian buah sawit. Sudah beberapa hari ini tak ada kiriman uang dari Jakarta. Pabrik mesti terima buah sawit untuk diolah setiap hari karena sudah disewa per hari. Kesannya adalah aku menjadi tumbal di sini. Menunggu rumah yang sewaktu-waktu bisa diamok massa karena kesal buah sawitnya tak dibayar oleh kantorku.

Kawanku hanya memberitakan bahwa malam ini mereka tidak akan pulang ke mes pabrik. Entah malam ini mereka tidur dimana. Aku tak tahu. Tapi, perkiraanku mereka tak akan kerepotan. Masalahnya kawanku yang tidak pulang ini orang yang mengurus keuangan. Dialah yang memegang uang perusaahaan. Bisa saja mereka menginap di hotel dan makan di rumah makan. Banyak tempat untuk itu di kota Dumai.

Kawanku menyarankan agar diriku minta ditemani oleh pekerja pabrik. Aku telepon kawanku yang bekerja di timbangan pabrik agar dirinya mau menginap di rumah mes. Dirinya pun datang. Saat aku tuliskan tulisan ini dia sedang asyik menonton film di Wong Fei Hung di Global TV.

Koneksi internet malam ini kurang baik rupanya. Beberapa kali aku coba untuk mengaktifkan Yahoo! Messenger tapi tak bisa. Untungnya koneksi internet yang lain masih bisa. Facebook misalnya. Tapi, tidak semua kawanku tergabung dalam facebook. Biasanya malam begini aku berbincang sejenak dengan kawanku yang ada di Pulau Jawa sana. Sekedar menanyakan kabar dan bercanda ringan. Meski aku berada jauh dengan mereka setidaknya hubungan silaturahim di antara kami tak terputus.

Ada satu orang yang aktif dalam facebook. Dia seorang perempuan. Aku ragu untuk mengajaknya berbincang. Tapi, aku tak ada pilihan jika aku ingin berbincang dengan seseorang malam ini. Hanya dialah satu-satunya orang yang aktif di facebook jaringanku. Aku beranikan diri menyapanya. “Malam mbak,” begitulah aku menyapanya. Lama juga sapaanku itu tak berbalas. Aku beranjak dari tempat dudukku di depan layar laptop untuk mengambil minuman. Setelah aku kembali lagi ternyata dia membalas sapaanku. “Malam mas,” begitu balasannya.

Saat ini sudah masuk jam 23.30 WIB. Aku lanjutkan dialogku padanya. “Masih aktif. Lembur ya.” Sekarang dialogku itu berubah menjadi monolog karena dia tak lagi menanggapi apa yang aku tuliskan untuknya. Aku jadi malu sendiri. Dia tak membalas perkataanku tadi bukannya dia sudah keluar dari facebook. Bukan, bukan itu. Aku lihat status dia masih aktif dalam facebook. Ah, mungkin dia tak mau saja membalas perkataanku tadi. Mungkin karena aku dan dia tak saling kenal sebelumnya maka dia malas untuk melanjutkan percakapan denganku. Tak apalah. Tapi, malunya itu loh. Kalau saja nanti Alloh mempertemukan kami – aku dengan dia – di waktu dan tempat yang ditentukan-Nya, bagaimana rasanya hati ini ketika mengingat kejadian ini. Aku sok akrab dengannya. Mencoba bergaul dengannya. Mungkinkah aku dengannya bertemu tatap muka langsung mengingat kita tak pernah saling kenal? Ah, tak ada yang tak mungkin. Aku dan dia hanya makhluk ciptaan Alloh. Terserah Alloh saja. Bila Alloh berkehendak mempertemukan maka tak ada secuil pun dari bumi ini yang diluar kekuasaan Alloh. Bisa dimana saja aku dan dia bertemu. Waktu juga Alloh yang mengaturnya. Mau hari apa, bulan apa, tahun berapa, jam berapa, kalau Alloh berkehendak mempertemukan aku dengan dia maka pasti akan bertemu di waktu yang telah ditentukan oleh Alloh. Kita paksa untuk memajukan waktu pertemuannya. Merekayasa kegiatan supaya saling ketemu. Tapi, Alloh Maha Kuasa. Kalau Alloh tak berkehendak bertemu pada waktu yang kita tentukan maka pertemuan itu tak akan pernah terjadi. Bagaimana pun bagusnya rencana kita pasti tak akan terjadi tanpa ijin Alloh.

Begitu juga sebaliknya. Aku dan dia tidak ingin bertemu. Segala cara dilakukan untuk saling menghindari. Blokir penggunaan internet, friendster, email, facebook, ym! blog sampai ganti nomor telepon, pindah tempat tinggal dan kantor. Tapi, bila Alloh sudah berkendak mempertemukan aku dengan dia maka semua itu akan sia-sia. Pasti aku dan dia akan bertemu di tempat dan waktu yang telah ditentukan Alloh. Tiba-tiba saja terjadi tanpa direncanakan sebelumnya. Kita hanya bisa berkata, “bagaimana ini semua bisa terjadi?” Kita tak bisa berpikir lagi tentang semua yang terjadi.

27 Februari, 2009 Ditulis oleh agus triyatno | catatan perjalanan | | Belum Ada Tanggapan

Aku, Kau dan Buku

Kalau aku tidak disuruh oleh kawan untuk membuat facebook mungkin sampai saat ini juga aku tak pernah menoleh sedikitpun tentang facebook itu. Sekarang aku sudah mencicipi facebook ini. Baru beberapa hari. Hari pertama yang aku lakukan dengan facebook ini adalah mencari kawan sebanyak-banyaknya. Pada hari pertama itu pula aku senang hati. Betapa tidak. Aku mencari dirimu dan aku menemukannya. Menemukan dirimu di facebook ini. Entah mengapa setiap diriku merasa lelah, tak bersemangat maka ketika aku bertemu sosok dirimu tak terasa diri ini menjadi bersemangat kembali. Merasa bahwa diri ini belum berarti apa-apa dibandingkan dirimu. Padahal usia dirimu masih terhitung muda. Meski aku tak tahu pasti berapa usiamu saat ini.

Mengenal sosok dirimu pasti tak jauh dari buku. Menulis, membaca, menerbitkan, dan menjual buku. Aku belum pernah bertemu denganmu secara langsung tatap muka. Sampai aku menuliskan anganku bertemu denganmu secara misterius dalam sebuah perjalanan Bandung – Yogyakarta.

Dengan ragu-ragu akhirnya aku menyapamu. Aku ragu karena takut kau tak akan membalas sapaanku. Ketika aku memintamu untuk menjadi kawanku di facebook ini pun aku ragu. Aku ragu kau tak mau menjadi kawanku. Namamu terkenal. Hanya namamu. Sosok dirimu tetap bersembunyi dalam kemasyuran namamu. Tulisanmu bertebaran di sejumlah media cetak. Mengetik namamu di mesin pencari internet Google banyak situs menampilkan namamu. Lagi-lagi hanya namamu dan tak ada gambar tentang sosok dirimu. Sepertinya sosok dirimu tak mau dikenal dan cukup namamu saja yang dicatatkan dalam lembaran sejarah. Memang diri kita akan musnah dan hanya nama kita yang akan abadi terukir diatas batu nisan.

Kemasyuran namamu itulah yang terkadang membuat diriku ragu berkawan denganmu. Sekali ada kesempatan berkawan dan bicara denganmu maka senanglah hatiku. Aku mengenal dirimu dari sebuah buku. Ah, lagi-lagi karena buku. Buku yang kau tuliskan benar-benar membekas pada diriku. Buku itu dibawa dari Kakakku yang kuliah di ujung bawah Pulau Sumatera. Meski yang aku tahu bahwa kau lebih banyak tinggal di Kota Gudeg.

Dari cerita di bukumu itulah aku menjadi pemalu. Bagaimana tidak malu? Kau seperti menelanjangi diriku pada cerita itu. Aku seperti dirimu. Menjadi pemalu ketika sebuah pertanyaan sederhana dan polos itu mengemuka. “Buku apa yang pernah dibaca?” atau “Punya buku apa saja?

Kau mengaku anak desa dari Pulau Sulawesi yang jauh dari jangkauan buku. Padahal orangtuamu begitu membesarkan dirimu saat kakak-kakak mahasiswa itu datang kunjungan kuliah kerja nyata (KKN). Kau juara kelas. Tapi kebesaran dirimu rontok ketika kakak mahasiswa itu bertanya buku apa yang kau punya. Kau bersembunyi di dalam rumah dan menangis.

Aku pun sama seperti dirimu. “Buku apa yang aku punya?” Saat membaca bukumu itu aku masih berstatus mahasiswa. Sebagai mahasiswa, aku jarang membaca buku. Apalagi untuk memilikinya. Ketika pertanyaan itu mengganggu pikiranku maka aku pun bersedih. Mahasiswa tak baca buku? Apalagi tak pernah beli buku?  Padahal kerjanya mahasiswa itu membaca dan menulis. Membaca dan menulis pasti berkait erat dengan buku. Aku tak bisa membeli buku saat itu. Tapi, seorang kawan di tempat kos amat membantuku. Dia suka membeli buku tapi jarang membacanya. Tiap dia membeli buku maka aku membacanya. Bahkan aku duluan yang membacanya dibandingkan yang empunya buku. Aku baca buku apa saja sampai airmata ini menetes bukan karena terharu membaca cerita di buku melainkan kelelahan membaca buku. Sejak saat itu pula aku menjadi menyukai buku.

Ah, kisahmu itu menarik bagiku. Mungkin jika Mira Lesmana si produser film itu membaca bukumu mungkin tertarik membuat film dari cerita bukumu itu seperti kisah Laskar Pelangi yang pernah ditulis oleh Andrea Hirata.

Sekarang buku menjadi kesukaanku. Setiap aku melancong ke daerah maka seperti mata ini memiliki radar untuk mencari dimana buku berada. Letak toko buku, perpustakaan, selalu menjadi pertanyaan ketika aku berada di daerah. Sewaktu aku di Fak Fak nampak perpustakaan daerahnya saat aku melintas menumpang angkutan kota. Aku telah menjadi anggotanya. Di Makasar tanpa sengaja saat makan pisang pepe malam hari bertemu dengan perpustakaan daerah karena tempat orang yang berjualan pisang pepe yang katanya terkenal di Makasar berada di depan gedung perpustakaan.

Sekarang ini aku singgah di pinggiran kota Dumai. Saat aku menemani kawan ke tengah kota Dumai, kawanku ini singgah di pangkas rambut Gaul yang terletak di jalan Ombak. Aku tak bernafsu untuk ikut potong rambut. Tapi yang aku lirik adalah toko buku Dwi Media yang berada tepat di seberang tempat pangkas rambut itu. Aku berlari menyebrang jalan. Memasuki toko itu. Ada komik, novel terjemahan, novel remaja, buku agama, buku pelajaran sekolah, psikologi, sejarah, politik, dan novel Indonesia. Dari jenisnya memang nampak banyak buku di sini. Tapi, bila dicermati dari penerbitnya maka kentara dominasi dua penerbit yaitu group Gramedia dan Mizan.

Aku melirik ke buku agama. Ternyata ada Al Qur’an saku lengkap dengan terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Asy Syamil. Sudah lama aku ingin membelinya. Pernah aku mencarinya di toko buku Islam Multazam di jalan Baru Dumai hanya saja saat itu sudah habis terjual. Aku tengok uang di saku kemeja. Ah, ternyata tak cukup jumlahnya untuk membeli Al Qur’an ini. Akhirnya aku hanya bisa memandanginya saja. Mudah-mudahan masih dapat barokahnya.

Saat melihat sekeliling ruang toko buku ini datanglah pengunjung lain. Seorang pemuda berkemeja lengan pendek yang dimasukkan ke dalam celana panjang. Kakinya terbungkus sepatu kulit. Seperti karyawan. Penjaga toko yang semuanya perempuan itu menghampiri. Menanyakan keperluan pemuda itu. Pemuda itu menyebutkan buku yang dicari yaitu buku komik One Piece. Sayangnya komik yang dicarinya itu tidak ada persediaan dan pemuda itu diminta menunggu paling cepat dua minggu baru tersedia kembali. Pemuda itu nampak kecewa dan keluar dari toko.

Setelah pemuda itu keluar toko, para penjaga toko tertawa melihat tingkah pemuda tadi. Para penjaga toko tak menyangka kalau pemuda itu mencari buku komik. Tak pantas rasanya seorang pemuda membeli buku komik. Seperti anak-anak saja. Mungkin masa kanak-kanaknya kurang bahagia. Begitulah kira-kira obrolan para penjaga toko.

Aku keluar dari toko dan memikirkan kejadian tadi. Bagiku sendiri tak masalah jika seorang pemuda atau orang dewasa membeli komik. Mungkin juga pemuda itu membelikan komik untuk anak, adik atau ponakannya. Bisa saja kan? Atau, kalau memang untuk dirinya sendiri bagiku tak masalah seorang pemuda membeli komik. Itu hanya masalah selera saja. Aku suka dunia anak-anak meski aku tak suka komik. Sekali lagi, ini hanya masalah selera aku saja.

Sebenarnya yang lebih menjadi pikiranku adalah kekecewaan pemuda tadi yang susah mendapatkan buku yang diinginkannya. Harus menunggu lama untuk mendapatkan buku. Aku sendiri heran. Dumai adalah kota pelabuhan yang memiliki pendapatan daerah sangat besar melalui minyak. Letaknya juga sangat dekat dengan Malaysia. Justru tadinya aku berharap di Dumai berserakan buku-buku luar negeri karena letaknya yang dekat dengan Negeri Jiran itu. Tapi dugaanku meleset setelah berkunjung ke toko buku tadi. Yang banyak beredar justru malah makanan produk Malaysia.

Di pangkas rambut Gaul itu aku meminjam uang kepada kawanku. Setelah mendapatkan pinjaman uang, aku kembali ke dalam toko. Hanya sebentar. Setelah itu keluar lagi sambil menenteng Al Qur’an terbitan Asy Syamil. Sebenarnya aku ingin ceritakan semua kisahku tadi padamu karena aku tahu kau sangat peduli tentang buku. Tapi, sekali lagi aku ragu. Takut kalau kau tak mau menanggapi. Jadi malu sendiri nantinya. Sudahlah, biar aku tuliskan sendiri kisahku ini. Karena aku tahu kau suka menuliskan kisah orang yang bercerita padamu.

Aku berharap bisa terus menjadi pemuja rahasiamu. Tak apalah aku kenal sosokmu dari karya tulismu. Aku sudah senang. Tetaplah semangat. Bila kau melemah mungkin aku lebih lemah lagi. Buku baru yang kau sunting tentang Lekra diboikot oleh grup Gramedia karena gambar sampul Palu Arit. Sekarang buku itu banyak mengisi ruang di gudangmu. Istilah yang kau katakan padaku, “mangkrak di gudang setelah Gramedia tak menerimanya.”

Meski begitu, semangatmu tak hilang. Kau menulis:
Tapi lelahnya sudah hilang… itu sudah cukup. Bahwa buku sanggahan terhadap kekisruhan pandangan atas itu pernah ada. Menulisnya capek sekali itu. Tugas nasional saya membantah pandangan buku hitam Prahara Budaya kukira telah kutunaikan. Itu impian saya sejak mahasiswa: bagaimana membantah buku prahara Budaya itu….

23 Februari, 2009 Ditulis oleh agus triyatno | catatan perjalanan | , | Belum Ada Tanggapan

Kesan Terhadap SMS

Betapa aku kaget ketika tiba-tiba saja seseorang yang sudah lama tidak mau lagi berkomunikasi denganku mengirim sms kepadaku. Betapa tidak? Dia selalu menggonta-ganti nomor hp hanya untuk menghindari komunikasi denganku. Baginya diriku itu seperti “monster” yang menakutkan yang loncat dari dunia mimpinya. Bahkan, bukan hanya dirinya yang menghindari diriku. Teman-temannya yang kenal denganku pun diperintakan untuk tidak berkomunikasi lagi denganku. Setelah mendapatkan nomor hp yang baru, aku mencoba menelponnya lagi hanya sekedar memberi kabar tentang kepergianku ke Riau. Ada nada sambung tapi tidak diterima olehnya. Aku lalu kirim sms padanya dan tak berbalas. Waktu berlalu. Seorang kawan memberi kabar tentang lowongan kerja di lembaga zakat. Lowongan kerja ini aku kirimkan kepadanya melalui sms karena dirinya pernah meminta infonya padaku. Lagi-lagi sms aku ini tak berbalas.

Kekagetanku saat mendapat sms darinya reda sudah. Aku baca pesannya. Dirinya meminta alamat dan nomor rekening bank milikku karena dia ingin mengembalikan uang yang pernah aku berikan kepadanya untuk biaya kursus bahasa Inggris dan mengisi pulsa telepon. Bagi diriku sendiri hal tersebut sudah aku lupakan karena memang aku tidak berperhitungan masalah uang dalam menjalin hubungan. Jika membantu ya bantu saja. Tak perlu ada embel-embel ini-itu. Justru aku katakan padanya bahwa jika memang ada rejeki berlebih maka gunakan saja uang itu untuk membayar biaya sewa makam Papahnya di Tanah Kusir Jakarta Selatan. Tapi, dirinya tetap saja bersikeras untuk mengembalikan uang itu meski saat ini belum saatnya. Aku katakan padanya bahwa terserah saja. Aku sendiri sudah tak bernafsu lagi akan uang itu. Merasa yakin jika rejeki itu Allah yang mengatur. Kalau memang uang itu adalah rejekiku maka Allah SWT pasti akan mengembalikannya kepadaku. Jika tidak, maka Allah SWT pasti akan membuat diriku merasa cukup dengan keadaan yang ada.

Begitulah kisahnya. Kisah ini pula yang membuat aku berpikir akan sesuatu, yaitu kenapa tiba-tiba orang tersebut mengirim sms kepadaku? Tepat sekali pada saat sms itu diterima, aku sedang menulis keterangan tentang buku terjemahan Al Hikam karya Ibnu Athaillah. Pada kalam hikmah nomor 1 ditulis bahwa sebagian tanda seseorang bersandar pada kekuatan amalnya adalah putus harapan dari rahmat kurnia Allah SWT disaat dirinya melakukan dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, aku pun mencoba mengaitkan apa yang aku rasakan saat itu dengan keterangan di dalam buku Al Hikam ini.

Dari buku Al Hikam tersebut didapat bahwa amalan itu bisa terbagi ke dalam dua jenis, yaitu amalan zahir dan amalan hati (batin). Amalan zahir adalah usaha kita dengan tujuan kehidupan dunia sedangkan amalan hati adalah sebuah kesan yang didapat dalam batin dengan tujuan untuk kehidupan akhirat. Misalkan, kita belajar supaya pintar. Inilah bentuk kebergantungan kita kepada amalan zahir. Sedangkan contoh amalan hati adalah kita merasa bahwa ibadah yang kita lakukan merupakan jaminan untuk masuk surga dan menghindari diri kita dari siksa api neraka.

Akibat dari bersandar kepada amal – baik amalan zahir maupun amalan batin – orang yang melakukan amalan itu akan merasa berputus asa dari rahmat Allah SWT ketika tujuan dari amalannya tidak tercapai. Merasa dirinya orang paling malang di dunia ini. Namun, jika tujuan dari amalan itu tercapai maka dirinya merasa bahwa tujuan tersebut tercapai karena kemampuan dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dan melupakan kuasa Allah SWT atas segala sesuatu.

Bagi orang yang mengenal Allah SWT maka dirinya tak lagi bersandar kepada segala amalan – baik amalan zahir maupun amalan hati. Baginya, semua yang terjadi adalah berada dalam kuasanya Allah SWT. Dalam hatinya sudah terukir jelas kalimat :

Laa haula quwwata illa billah…tiada daya untuk mengelak dari segala musibah kecuali dengan bantuan Allah SWT dan tak ada kekuatan sedikitpun untuk melakukan perbuatan taat tanpa pertolongan dari Allah SWT.

Secara zahir kita diberikan pilihan untuk melakukan segala sesuatu asalkan tidak melanggar syariat yang diperintahkan Allah SWT. Tapi hakikatnya dalam hati tetap yakin bahwa segala amalan yang dilakukan bukan karena kemampuan dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya melainkan segalanya bersandar hanya kepada Allah SWT. Kalau sudah begini maka jiwa menjadi tenang. Pujian atau caci maki orang lain diterimanya dengan tenang asalkan Allah SWT ridho dengannya. Hina di hadapan makhluk tidak apa-apa, yang penting diri ini terhormat di hadapan Allah SWT.

Selama aku terpisah dengannya, aku hanya bisa mendoakannya agar tidak terputus tali silaturahim yang sudah terjalin selama ini. Ketika mendapatkan sms darinya maka dalam pikiran ini bergumul dengan berbagai kemungkinan. Bila dikaitkan dengan pembahasan kalam hikmat nomor 1 dari buku Al Hikam bisa didapat berbagai sebab dari perbuatan dia mengirim sms kepadaku. Sebab pertama adalah bila disandarkan kepada amalan zahir, yaitu perbuatan dia mengirim sms kepadaku hanya karena ingin mendapatkan informasi alamat rumah dan nomor rekening bank milikku untuk mengembalikan uang. Sebab kedua adalah bersandar kepada amalan hati, yaitu perbuatan dia mengirim sms kepadaku akibat dari amalan hati karena aku senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar ikatan silaturahim yang sudah terjalin terus terjaga. Sebab ketiga adalah bersandar hanya kepada Allah SWT, yaitu yakin bahwa perbuatan dia mengirim sms kepadaku hanya karena Allah SWT yang berkehendak demikian. Tak ada prasangka apa-apa. Dalam hal ini sudah tidak terpikirkan lagi apakah dirinya mengirimkan sms atau tidak. Bila dia tidak mengirim sms maka tidak patah harapan terhadap kurnia dari Allah SWT dan bila dirinya mengirimkan sms meskipun hanya sekedar menanyakan alamat dan nomor rekening bank, itu pun tidak menyebabkan hati ini menjadi ujub, riya, dan takabur. Merasa bahwa dia mengirim sms itu karena butuh diriku atau karena doa-doa yang aku lantunkan selama ini.

Bagi orang yang ingin mengenal Allah SWT maka sebab yang ketiga yang akan dipilih dan diyakini dengan sepenuh hati. Memang awalnya sulit. Tapi, dengan ijin dari Allah SWT maka kita akan terbiasa untuk melakukannya. Bahwa hakikatnya dalam setiap kejadian itu terdapat campur tangan kuasa Allah SWT dan kita sebagai makhluk-Nya mesti bisa menerima setiap kejadian itu sebagai kurnia Allah SWT semata. Begitulah aku kini ingin menjadi. Mohon doanya.

1 Januari, 2009 Ditulis oleh agus triyatno | catatan perjalanan | | Belum Ada Tanggapan

AL HIKAM NO. 1: PERBUATAN ZAHIR DAN SUASANA HATI

SEBAHAGIAN DARIPADA TANDA BERSANDAR KEPADA AMAL (PERBUATAN ZAHIR) ADALAH BERKURANGAN HARAPANNYA (SUASANA HATI) TATKALA BERLAKU PADANYA KESALAHAN.

Amal perbuatan itu dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu perbuatan zahir dan pebuatan hati (batin). Perbuatan zahir ini biasa juga dinamakan usaha atau ikhtiar yang dilakukan untuk tujuan tertentu yang biasanya berkaitan dengan hal yang sifatnya duniawi. Perbuatan zahir berhubungan dengan perbuatan hati. Bisa saja beberapa orang melakukan perbuatan zahir yang sama tapi memeiliki kesan di hati terhadap perbuatan zahirnya itu berbeda-beda. Jika amalan zahir itu mempengaruhi suasana batin maka batin itu dikatakan bersandar kepada amalan zahir. Jika suasana batin dipengaruhi juga oleh amalan hati lainnya maka batin itu dikatakan bersandar juga kepada amal, sekalipun amal itu adalah amalan hati.

Hati yang terbebas dari segala amal – baik itu amalan zahir maupun amalan batin – adalah hati yang menghadap kepada Allah SWT semata. Hati yang demikian tidak menjadikan amalnya sebagai alat untuk tawar menawar dengan Allah SWT supaya mendapatkan sesuatu yang diinginkan meskipun amalnya itu seluas langit dan bumi. Orang yang melakukan amalan ini disebut ariifin, orang-orang arif.

Manusia yang kuat bersandar kepada amalan zahir adalah mereka yang mencari tujuan duniawi dan mereka yang kuat bersandar kepada amalan batin adalah yang mencari kehidupan akhirat. Kedua jenis manusia tersebut percaya bahwa amalannya yang menentukan apa yang akan mereka dapatkan di dunia dan di akhirat. Kepercayaan yang demikian membuat manusia hilang atau kurang bergantung kepada Allah SWT. Mereka hanya bergantung kepada amalannya semata-mata ataupun jika mereka bergantung kepada Allah SWT maka bergantungnya itu bercampur dengan keraguan.

Kita dapat mengetahui kedudukan diri kita dalam hal ini, apakah masih bersandar kepada amal atau bersandar hanya kepada Allah SWT. Kalam Hikmat 1 dalam buku terjemahan Al Hikam yang diajarkan Ibnu Athaillah memberikan petunjuknya. Coba lihatlah kepada hati kita apabila kita terperosok ke dalam perbuatan maksiat atau dosa. Jika kesalahan itu membuat diri kita berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah SWT berarti itu tandanya kita sangat lemah bergantung kepada Allah seperti terlihat dalam Al Qur’an:

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir,”( Surah Yusuf [12] : Ayat 87).

Nampak jelas bahwa orang kafir yang tidak beriman kepada Allah SWT hanya bergantung kepada amalan mereka yang terkandung ilmu pengetahuan dan usaha / ikhtiar yang dimilikinya. Apabila mereka berusaha berdasarkan kemampuan dan ilmu pengetahuannya maka mereka mengharapkan hasil sesuai yang diharapkan. Namun, jika ilmu dan usahanya (termasuk juga meminta pertolongan orang lain) gagal mendatangkan hasil maka mereka berputus asa. Mereka tidak dapat melihat hikmah kebijaksanaan Allah SWT dalam mengatur takdir dan mereka tidak mendapat rahmat Allah SWT.

Sebagian orang Islam ada yang serupa dengan sifat orang kafir di atas. Orang seperti ini melakukan amalan karena kepentingan dirinya sendiri, bukan karena Allah SWT. Dengan amalannya mereka berharap mendapat kejayaan hidup di dunia. Semakin banyak amal kebaikan yang dilakukan maka bertambah besar harapan dan keyakinannya terhadap kesejahteraan hidupnya di dunia.

Sebagian orang Islam yang lainnya ada yang mengaitkan amal kebaikan dengan kemuliaan hidup di akhirat. Mereka memandang amal saleh yang dilakukannya di dunia ini sebagai tiket masuk surga dan melindungi diri dari siksa api neraka. Orang seperti ini tidak tahan dengan musibah. Selalu mengharapkan perjalanan hidupnya segera selesai dan segalanya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Apabila terjadi sesuatu diluar rencana maka mereka cepat panik dan gelisah. Musibah membuat mereka merasa sebagai orang yang paling menderita di dunia. Tapi, bila usahanya berhasil mendapatkan kebaikan maka mereka merasa bahwa keberhasilannya itu disebabkan oleh kepandaian dan kemampuannya sendiri.

Mereka yang bersandar pada amalnya pasti menjadi ujub, sombong dan merasa sempurna dirinya sebagaimana yang terjadi pada iblis ketika diperintah bersujud kepada Nabi Adam AS, lantas iblis berkata:

“Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah,” (Surah Ash Shaad [38] : Ayat 76).

Juga seperti yang telah terjadi kepada Qaarun saat ia berkata:

“Qaarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka,” (Surah Al Qashash [28] : Ayat 78).

Apabila suasana hati seseorang bertambah teguh maka dia melihat amal itu hanya sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hatinya tidak cenderung kepada kehidupan dunia dan akhirat lagi, tapi berharap untuk mendapatkan kurnia Allah SWT. Orang seperti ini mengaitkan amal yang dilakukan seperti zikir, shalat, puasa, dan lain-lain membawa dirinya mendekat kepada Allah SWT. Namun, bila tertinggal melakukan suatu amal yang biasa dilakukannya atau bila tergelincir melakukan dosa dan kesalahan maka dia merasa dijauhkan oleh Allah SWT.

Kemudian, jika dengan ijin Allah SWT keyakinan hatinya semakin teguh bersandar hanya kepada Allah SWT maka nyata dalam hatinya itu kalimat berikut:

“Laa haula wala quwwata illa billahi – Tiada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan dan tidak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan bantuan pertolongan Allah dan kurnia rahmat Allah SWT semata.”

Orang seperti ini sudah tidak lagi melihat kepada amalnya walau banyak sekali amal yang dilakukannya namun hatinya tetap melihat bahwa semua amalan tersebut adalah kurnia Allah SWT kepadanya. Jika tidak karena taufik dan hidayah dari Allah SWT tentu tidak ada amal kebaikan yang dapat dilakukan.

Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, maka jangan pula kita menyekutukan Allah SWT dengan kekuatan diri sendiri. Merasa seolah-olah sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah SWT, tanpa rahmat taufiq hidayah dan kurnia Allah SWT.

Mestinya kita bertauladan kepada Nabi Sulaiman AS ketika beliau menerima nikmat kurnia Allah SWT saat mendapat istana ratu Balqis:

“…. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia,” (Surah An Naml [27] : Ayat 40)

Segala-galanya adalah kurnia Allah SWT dan menjadi milik-Nya. Inilah orang-orang arif. Orang seperti ini melihat kepada takdir yang Allah SWT tentukan dan tidak terlihat olehnya keberkesanan perbuatan makhluk termasuklah perbuatan dirinya sendiri. Golongan ini tidak lagi bersandar kepada amal namun, merekalah yang paling kuat mengerjakan amal ibadat.

Orang arif ini melihat dirinya sangat lemah, hina, jahil, serba kekurangan dan faqir. Sedangkan, Allah SWT adalah Maha Kaya, Berkuasa, Mulia, Bijaksana dan Sempurna dalam segala segi. Bila dia sudah mengenali dirinya dan Tuhannya, pandangan mata hatinya tertuju kepada Qudrat dan Iradat Allah SWT. Dengan begitu, jadilah dia seorang arif yang selalu memandang kepada Allah SWT, berserah diri kepada-Nya, bergantung dan berhajat kepada-Nya. Orang yang arif mengakui bahwa dirinya hanyalah hamba Allah SWT yang faqir.

28 Desember, 2008 Ditulis oleh agus triyatno | al hikam | | Belum Ada Tanggapan

Selamat Hari Ibu

22 Desember 2008. Suatu saat di sudut ruang kamar. Imah sedang menulis sesuatu di secarik kertas. Sebentar-sebentar Imah terdiam. Pandangannya ke arah langit-langit kamar. Lalu, memetikan jemari tangannya. Setelah itu menulis lagi. Beberapa waktu kemudian, Imah selesai menulis. Di angkat secarik kertas yang baru saja ditulisnya. Mulutnya komat-kamit membaca tulisannya sendiri. Setelah itu kepalanya mengangguk seperti menyetujui isi dari tulisan tersebut. Imah merapikan alat tulisnya ke sedia kala.

Imah keluar dari kamarnya dengan membawa secarik kertas yang baru saja ditulisnya. Pandangannya mengitari ruangan. Seperti ada yang sedang dicari oleh Imah. Segera Imah berpindah ke ruangan lain. Dengan mantap langkah Imah menuju dapur. Di sana didapati Bunda sedang memasak. Pada saat itu wajah Imah berubah ceria. Didekati Bundanya itu. Tanpa bicara apa-apa, Imah langsung menyodorkan kertas yang telah ditulisnya tadi ke hadapan wajah Bunda. Kontan saja Bunda langsung berhenti memasak. Tangan Bunda mengambil kertas yang disodorkan Imah tersebut dan membacanya. Setelah membacanya, Bunda hanya menatap Imah dengan tersenyum. Wajah Imah menjadi merah semu karena malu. Mata Imah tak berani menatap Bunda. Sambil terus menunduk Imah berucap: “bagaimana, Bunda?

Bunda mematikan kompor. Lalu mengajak Imah ke meja makan. Mereka duduk saling berhadap-hadapan.

“Benarkah tulisan ini kemauanmu, Sayang?” tanya Bunda.

Imah hanya menganggukan kepala.

“Baiklah kalau begitu, Biar Bunda siapkan dulu uangnya.”

Bunda meninggalkan Imah sendirian di meja makan. Tak berapa lama Bunda kembali membawa beberapa lembar uang. Setelah dihitung-hitung, uang itu diberikan kepada Imah.

“Coba dihitung lagi. Apakah masih kurang?” tanya Bunda lagi

Imah menghitung uang yang diberikan oleh Bunda. Setelah selesai menghitung, Imah mengacungkan jempol. Tanda semuanya tak masalah. Wajah Imah pun nampak gembira.

“Maafkan Bunda, Sayang. Ternyata selama ini Bunda telah banyak menyuruhmu. Kertas yang kamu tulis itu bukti daftar perintah Bunda ke kamu. Jumlahnya cukup banyak juga dan kamu meminta imbalan atas semua perintah Bunda. Sekarang telah Bunda lunasi semua itu.”

Begitulah sekilas kisah yang aku baca dalam sebuah buku tentang peristiwa-peristiwa yang yang menyentuh jiwa. Buku itu aku temukan di kamar kos kawanku sewaktu aku tinggal di Jatinangor. Aku hanya mengambil inti sari ceritanya saja. Kemudian aku tuliskan kembali di sini dengan caraku sendiri. Kisah di atas belum selesai. Akan aku selesaikan di akhir tulisan ini.

Sampai mati aku tetap akan menjadi seorang anak. Statusku tidak bisa berubah. Bukan karena ingin seperti tokoh Peterpan yang tidak mau tumbuh dewasa dan terus menjadi anak-anak. Bukan itu. Tapi, status sosial yang aku sandang sebagai anak tidak akan pernah lepas dari diriku sampai aku mati. Meski aku terus bertambah umur maka tetap saja aku seorang anak dari orangtuaku. Meski aku kelak akan menikah dan mungkin dikarunia keturunan tetap saja aku ini seorang anak dari orangtuaku. Meski aku kelak akan dipanggil “ayah” oleh anak-anakku dan dipanggil “kakek” oleh cucuku maka tetap saja aku seorang anak dari orangtuaku. Hingga kelak tertulis di batu nisan makamku, fulan bin fulan, aku anak dari orangtuaku.

Sebagai seorang anak, aku tak ada bedanya dengan anak-anak yang lain. Lebih banyak meminta kepada orangtua dibandingkan dengan memberikan sesuatu. Bahkan sebelum aku meminta sesuatu maka orangtuaku sudah memenuhinya. Terlebih makhluk yang biasa kita sebut ibu, bunda, mamah, mami, mbok, dll. Merekalah yang lebih banyak merawat kita dibandingkan ayah, bapak, papah, papi, abi, abah, dll.

Allah telah menganugerahkan para ibu itu kemampuan untuk merawat anak-anaknya. Bayangkan saja, sejak kita berada dalam kandungan ibu syariatnya kita senantiasa dipelihara oleh orangtua kita. Diberi makanan hingga akhirnya tumbuh dan berkembang menjadi janin dan dilahirkan sebagai bayi. Lalu, kita disusui dan disapih sampai dua tahun. Kalau tak cukup ASI (Air Susu Ibu) maka diberikan susu buatan pabrik. Diberi pakaian yang terbaik. Diberikan imunisasi agar daya tahan tubuh terhadap penyakit meningkat. Di saat kita tidak mampu mengurusi diri kita sendiri inilah maka ibu membantu mengasuh diri kita.

Tak henti-hentinya ibu membantu mengasuh diri kita. Bahkan sampai kita beranjak menjadi anak kecil, remaja dan dewasa. Saat kita sekolah tetap saja ada orangtua yang mengurusi. Menyediakan makanan dan pakaian untuk kita. Tak perlu kita memikirkannya. Semua telah tersedia untuk kita bagai seorang raja. Mau makan tinggal makan. Mau berpakaian tinggal menggunakan. Mau sekolah tinggal berangkat dan belajar tanpa perlu memikirkan biaya ini-itu. Bahkan mungkin kita masih saja minta disuapi saat makan meski sudah sekolah di SMP. Semua akan dilakukan ibu untuk anaknya. Tak peduli apakah anaknya nakal, membantah perintahnya, dll. Tetap bagi ibu terus merawat anaknya setulus hati.

Seorang kawan bernama Firmansyah. Dia tinggal di Bandung. Dirinya pernah bilang kepadaku bahwa orangtua yang berhasil adalah orangtua yang dalam keterbatasannya bisa membuat anak-anaknya berhasil. Kita tak akan heran bila orangtua yang kaya menyekolahkan anaknya sampai keluar negeri. Tapi, kita akan heran bila orangtua yang sederhana (untuk tidak menyebutkan miskin) bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai ke universitas di dalam dan luar negeri. Bahkan anaknya itu tidak hanya satu melainkan lebih dari itu. Firmansyah merasa orangtuanya telah menjadi orang yang berhasil. Bayangkan saja. Firmansyah memiliki banyak saudara kandung. Orangtuanya seorang pedagang kecil yang menjual pakaian. Sudah ada empat orang yang sudah menjadi sarjana. Bahkan dua orang sampai menuntut ilmu di negeri bunga sakura, Jepang. Tentu saja hal ini tak lepas dari peran sang ibu.

Contoh lainnya adalah orangtuaku sendiri. Aku katakan berhasil karena syariatnya bisa menyekolahkan tiga orang anaknya sampai menjadi sarjana dan tinggal satu orang lagi yang masih kuliah di tingkat akhir. Padahal jika dihitung secara logika matematika rasanya tidak akan cukup. Tapi, dasar hakikatnya rejeki itu hanya dari Allah. Tanpa kita tahu ternyata semuanya cukup. Aku masih terharu ketika kembali ingat bahwa untuk membawa barang-barangku yang tak seberapa jumlahnya dari Jatinangor ke rumah orangtuaku, ibuku mesti menggadaikan perhiasan emas miliknya untuk menyewa mobil milik saudara sekampung. Ibuku menyewa mobil karena aku bilang selain barang-barangku juga ada barang yang bukan milikku yang mau dititipkan karena belum sempat terbawa ketika pemiliknya pindah tempat tinggal dari Bandung ke Sebelah Selatan Jakarta. Semua itu dilakukan ibu karena rasa sayangnya pada kami, yaitu aku dan orang yang menitipkan barangnya padaku.

Terkadang hal-hal semacam ini jarang kita sadari. Betapa pengorbanan yang telah dilakukan ibu kepada kita tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, aku katakan bahwa orang yang kaya bukanlah orang luar yang memiliki harta melimpah. Tapi, orang kaya itu dekat sekali dari diri kita. Dialah orangtua kita sendiri, dialah ibu kita. Kalau mau memperhitungkan apa yang telah dilakukan ibu kepada diri kita maka jumlahnya tak akan bisa dihitung. Meskipun bisa dihitung mungkin pula kita tidak bisa menggantinya.

Bagaimana ibu kita bisa dikatakan miskin? Kita sudah menginap di rahimnya dalam hitungan normal selama sembilan bulan sepuluh hari dan itu semua gratis. Lalu, kita menghisap ASI dari payudaranya selama maksimal dua tahun dan itu juga secara gratis. Ditambah lagi dengan makanan, minuman, pakaian, mainan, biaya sekolah, ongkos perjalanan selama ini, dan masih banyak lagi yang belum sempat tertulis di sini yang membutuhkan biaya, semua diberikan orangtua kita melalui tangan ibu kita secara cuma-cuma. Tapi, dengan segala pengorbanan yang dilakukan ibu kepada kita terkadang bukannya prestasi yang kita persembahkan kepada ibu kita melainkan justru mengecewakannya. Dalam kekecewaannya itu ibu tetap sayang pada kita. Kalau marah hanya pada saat itu saja. Tak berlanjut dan berlarut-larut. Bahkan yang ada adalah sang anak membuat ibu kecewa lagi.

Seperti nikmat Allah yang selalu dianugerahkan kepada kita. Meskipun kita senantiasa berbuat dosa tetap saja Allah memberikan nikmatnya pada kita. Bagaimana kita tetap diberi kesempatan untuk menghirup udara, meminum air, dan memakan makanan yang semuanya adalah milik Allah. Kita tidak bisa menghitung nikmat Allah itu dan tak akan bisa membalasnya dengan kemampuan kita yang sangat terbatas dibandingkan dengan kuasanya Allah. Maka dari itu, harus disadari bahwa semua itu merupakan kasih sayang Allah pada makhluk-Nya, bukan karena kemampuan kita. Oleh karena, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Bisa saja Allah cabut nikmat itu dari kita dan pasti kita tidak bisa berbuat apa-apa karena hidup dan mati kita berada dalam genggaman-Nya.

Begitulah akhirnya. Imah kembali duduk di hadapan Bunda. Tidak beranjak saat Bunda bercerita tentang dirinya selama ini dan apa yang telah dilakukan Bunda kepada Imah. Ternyata kalau dituliskan apa saja yang pernah dilakukan Bunda ke Imah maka jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan tulisan Imah di secarik kertas yang diberikan kepada Bunda. Dan, jika perlakuan Bunda ke Imah itu diberi nilai maka seharusnya Imah yang membayar ke Bunda. Imah menatap wajah Bunda yang masih tersenyum kepadanya meski apa yang baru saja dilakukannya, yaitu meminta imbalan karena sudah menuruti perintah Bunda, bisa dikatakan kurang ajar. Tak terasa mata Imah mengeluarkan airmata. Imah menangis. Memeluk tubuh Bunda dan menciumi wajahnya. Barulah Imah sadar bahwa tubuh Bunda sekarang bertambah renta. Imah merapatkan bibirnya ke telinga Bunda. Sambil berbisik Imah berucap: “Selamat Hari Ibu, Bunda.”

22 Desember, 2008 Ditulis oleh agus triyatno | catatan perjalanan | , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Orang Yang Beruntung

21 Desember 2008. Siapakah orang yang beruntung? Pertanyaan ini bisa mengundang banyak jawaban orang-orang dari banyak kalangan. Sebagian orang mengira bahwa dirinya beruntung bisa menjadi orang kaya yang memiliki banyak harta. Dengan harta itu dirinya bisa membeli apa saja yang diinginkan. Tak pernah merasa kesusahan. Dihormati banyak orang. Ada juga sebagian orang lain yang merasa beruntung karena masyur. Dikenal banyak orang. Menjadi selebritis. Ikut kontes macam-macam. Mulai dari kontes kecantikan, kontes menyanyi, kontes menari, dll.

Masih belum cukupkah keberuntungan itu? Oh, ternyata belum. Masih ada lagi orang yang merasa beruntung. Misalkan saja seorang lelaki merasa beruntung mendapatkan istri yang cantik, kaya, terkenal sebagai orang terpandang. Begitupun sebaliknya. Seorang perempuan merasa beruntung menikahi seorang lelaki yang tampan, disukai banyak perempuan, berwibawa, memiliki pangkat dan kedudukan yang bagus, penghasilannya puluhan juta rupiah setiap bulan, serta memiliki kepribadian. Yang dimaksud kepribadian di sini adalah rumah pribadi, alat transportasi pribadi seperti mobil-motor-kapal-pesawat pribadi, tabungan deposito pribadi, tanah pribadi yang luas, perusahaan pribadi, dll.

Lalu, siapakah orang yang tidak beruntung itu? Bisa jadi yang sebaliknya dari yang dituliskan di atas. Orang yang tidak beruntung adalah orang yang kekurangan harta alias miskin. Dengan kemiskinannya itu dirinya susah untuk membeli barang-barang bahkan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri ditambah tanggungan anggota keluarganya. Dengan kemiskinan itu dirinya dihina banyak orang. Dengan kemisikinannya itu dirinya tak dikenal banyak orang, sakit-sakitan karena tidak bisa merawat tubuhnya dengan baik.

Orang merasa tidak beruntung karena memiliki tubuh yang dirasa kurang menarik. Bagi kaum perempuan yang merasa tidak atau kurang cantik maka dirinya kurang percaya diri yang akhirnya beranggapan bahwa dirinya adalah orang yang tidak beruntung. Begitupun dengan para lelaki. Siapa saja para lelaki yang merasa tubuhnya kurang atau tidak tampan seperti para lelaki sejati yang diidam-idamkan perempuan beranggapan sebagai orang yang tidak beruntung.

Bagi perempuan banyak yang mengidamkan tubuh langsing, kulit putih mulus, tinggi, dsb. Bagi kaum lelaki mengidamkan tubuh tinggi, besar, berotot, memiliki kulit putih dan bersih. Oleh karena itu, banyak orang yang kurang puas dengan keadaan dirinya berupaya keras untuk mendapatkan hasil seperti yang diidam-idamkan banyak orang. Ikut perawatan tubuh di salon kecantikan, turut klub fitnes olahraga, rajin konsultasi kepada ahli kecantikan dan kesehatan. Semuanya dilakoni demi mendapatkan apa yang diimpakannya. Tak peduli menghabiskan biaya yang mahal, tenaga dan waktu yang banyak. Bagi mereka yang merasa kurang puas itu yang penting adalah mendapatkan tubuh ideal seperti yang diidam-idamkan banyak orang. Tapi, bagaimana bila segala usaha sudah dilakukan tetapi orang lain memandang dirinya biasa saja atau malah bertambah jelek? Uang sudah habis untuk biaya perawatan tubuh, dirinya sudah lelah melakoni segala macam perawatan. Kalau sudah begini, maka yang tertinggal hanya stress!

Anggapan di atas tentang orang yang beruntung dan orang yang merasa tidak beruntung bisa jadi benar. Sah-sah saja jika ada orang yang menyatakan diri bahwa dirinya beruntung menjadi anak orang kaya. Tapi, apakah selamanya orang kaya itu orang yang beruntung? Kita juga tidak menyalahkan ada seorang perempuan yang merasa beruntung disukai banyak lelaki karena kecantikannya. Begitupun dengan lelaki yang tampan. Tapi, apakah orang yang cantik dan tampan itu identik dengan keberuntungan?

Kalau kita bisa menerima pemikiran di atas mengenai orang yang beruntung dan tidak beruntung maka tidak ada salahnya juga kita memiki pemikiran yang berbeda dari yang di atas tentang orang yang beruntung dan tidak beruntung itu. Misalkan saja, benarkah keberuntungan itu monopoli bagi orang kaya dan ketidak-beruntungan itu hanya milik orang yang miskin? Untuk menjawab keragu-raguan itu maka perlu kita mencari konsep tentang untung itu sendiri.

Bagiku sekarang, beruntung itu merupakan keadaan atau perasaan yang membuat kita menjadi lebih baik. Kebaikan ini tentu saja bagiku adalah membuat diri ini menjadi lebih kenal, tunduk, patuh, dan taat kepada Allah. Apakah orang kaya itu beruntung? Belum tentu. Bila orang dengan kekayaannya itu sama saja dengan hari-hari sebelumnya dan tidak membuat dirinya menjadi lebih baik maka dapat dikatakan bahwa orang kaya itu merugi. Oleh karena, umurnya senantiasa bertambah sedangkan amalannya tidak ikut bertambah. Apalagi bila orang dengan kekayaanya itu justru menjadi orang yang lebih buruk dari keadaan sebelumnya maka bisa dipastikan bahwa orang kaya itu sebenarnya celaka.

Misalkan saja, ada orang yang memiliki banyak harta. Dengan kekayaannya itu justru membuat dirinya menjadi kikir, dengan kekayaannya itu menjadi mudah baginya untuk maksiat seperti mabuk dan zinah, dengan kekayaannya itu dirinya menjadi ujub, riya’, takabur dan sombong. Merasa dirinya paling benar dan senang merendahkan orang lain. Kalau sudah begitu, maka dipastikan orang seperti ini bukanlah orang yang beruntung melainkan orang yang celaka.

Namun, ada pula orang yang miskin tapi beruntung. Siapakah dia? Orang yang dengan kemiskinannya itu banyak dihina orang. Kalau melamar perempuan untuk menjadi istrinya maka sudah pasti ditolak karena kemiskinannya. Tapi, dengan seringnya dihina oleh banyak orang itu membuat orang miskin ini menjadi semakin dekat dengan Allah, yaitu meyakini bahwa apa yang terjadi merupakan pemberian Allah semata dan pasti baik bagi dirinya. Tawakal dengan menyerahkan segalanya hanya kepada Allah. Dengan banyak dihina orang pula maka orang miskin itu menjadi sering evaluasi diri dan mudah memaafkan orang lain. Kalau begitu, kemiskinan baginya bukanlah sebagai ketidak-beruntungan melainkan sebagai suatu keberuntungan. Oleh sebab, dengan kemiskinannya itu dirinya menjadi lebih dekat dengan Allah.

Jadi, sekarang bagaimana? Apakah mau kita jadi orang miskin? Saran dariku adalah jangan mau menjadi orang miskin! Oleh karena, belum tentu dengan kemiskinan itu kita bisa menjadi lebih dekat kepada Allah. Banyak juga orang miskin justru menjadi putus asa dengan karunia Allah dan ingin cepat-cepat mengakhiri hidup di dunia ini alias bunuh diri. Sedangkan oleh Allah, orang yang mati karena bunuh diri tidak disukai. Ada pula dengan kemiskinannya mudah untuk melakukan pencurian, penipuan, dan perzinahan. Mereka melakukan itu semua dengan alasan bahwa saat ini mencari nafkah sulit. Jadi, segala macam dilakukan untuk bisa mendapatkan penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Anggapan yang terkenal dalam keadaan seperti ini adalah mencari nafkah yang haram saja sulit, apalagi nafkah yang halal?!

Ada lagi orang yang merasa beruntung karena kisah cintanya kandas di tengah jalan. Bahkan hubungan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun lamanya pun bisa kandas juga. Al kisah ada sepasang manusia yang menjalin kasih. Sebut saja nama sang perempuan adalah Siti Nurbaya dan nama sang lelaki adalah Midun. Mereka merangkai kisah cintanya selama beberapa tahun dan telah merencanakan sebuah pernikahan. Sampai tibanya suatu kepastian adanya tekad dari keluarga Midun untuk meminang Siti Nurbaya. Tapi, tiba-tiba saja Siti Nurbaya itu menolaknya. Padahal, selama ini Siti Nurbaya yang terus meminta agar Midun cepat-cepat menikahinya. Midun mencoba meyakini Siti Nurbaya atau setidaknya meminta penjelasan kenapa Siti Nurbaya menolak menikah dengannya dan mengingkari janji komitmennya untuk menikah. Tapi, Siti Nurbaya tidak mau menjelaskannya. Alasan yang disampaikan hanya berdasarkan prasangka semata yang belum tentu benar. Bahkan dirinya cenderung untuk terus menghindar dan memutuskan segala interaksi dengan Midun. Siti Nurbaya melupakan Midun.

Siti Nurbaya berkomentar bahwa dirinya merasa beruntung karena putus cinta dengan Midun. Kepada kawannya, Siti Nurbaya berseloroh untuk membentuk kelompok KEJORA (KELOMPOK JOMBLO CERIA). Waktu terus berjalan. Kini hidup Siti Nurbaya tidak dihiasi dengan seseorang yang bernama Midun. Dia bisa bebas bergaul dengan siapa saja. Lelaki perempuan sama saja. Siti Nurbaya bebas menentukan. Lantas, bagaimana dengan Midun?

Midun juga merasa beruntung. Dengan putus cinta dari Siti Nurbaya, Midun terus bertafakur. Mengevaluasi diri tentang kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Mencoba mencari jawaban kenapa Siti Nurbaya tidak mau menikah dengan dirinya. Kesalahan apa yang pernah dia lakukan kepada Siti Nurbaya? Dalam perenungannya itu sampailah Midun pada suatu kesimpulan bahwa sesungguhnya pasangan hidup bukan miliknya karena mutlak pasangan hidup itu berada dalam genggaman Allah semata.

Jadi, maukah kita putus cinta? Sekali lagi aku sarankan supaya janganlah putus cinta. Selain membuat hati ini sakit, belum tentu juga dengan putus cinta itu kita menjadi orang yang beruntung. Banyak pula orang yang putus cinta justru lari menjauh dari Allah dan mendekat kepada kemusyrikan, seperti meminta pertolongan kepada dukun supaya orang yang memutuskan cintanya itu kembali lagi kepadanya. Atau, lebih parah lagi supaya orang yang telah menyakiti hatinya dengan memutuskan cinta seenaknya itu mendapat musibah. Wah, orang itu sungguh celaka.

Lebih baik menjadi orang yang beruntung bagaimanapun keadaan kita. Saat kita kaya maka jadilah orang yang beruntung. Ketika kita miskin tetap menjadi orang yang beruntung. Waktu menjalin kisah cinta sesama manusia maka jadilah orang yang beruntung. Tiba waktunya berpisah dengan orang yang kita cintai tetap saja menjadi orang yang beruntung. Jadilah orang yang beruntung, yaitu apapun keadaannya maka tetap dekat, tunduk, patuh, dan taat hanya kepada Allah semata. Bersyukur di kala Allah menganugerahkan nikmat dan bersabar ketika Allah memberikan musibah kepada kita. Oleh karena, sesungguhnya segalanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

21 Desember, 2008 Ditulis oleh agus triyatno | catatan perjalanan | , , , , | 1 Komentar

Semua Bukan Milik Kita

16 Desember 2008. Kemarin siang aku pergi ke Ujung Tanjung untuk membeli air galon isi ulang. Di mes terdapat tiga galon air dan semuanya dalam keadaan kosong. Tak ada lagi persediaan air minum. Karena ini adalah kesempatan keluar wilayah pabrik maka sekalian saja didata barang apa saja yang ingin dibeli. Ternyata ada beberapa yang sudah habis persediaannya. Di antaranya sabun mandi dan minyak goreng. Sebelum berangkat aku meminta uang kepada Pak Dadan, bagian keuangan. Dia memberikan aku uang yang dilipat. Aku tidak tanya berapa jumlahnya. Uang itu langsung aku taruh di saku kemeja dan aku berangkat bersama Rahmat menggunakan mobil Daihatsu Xenia warna hitam.

Sampailah kami di tempat pengisian air isi ulang. Sengaja kami tinggalkan saja galonnya. Lalu kami menyebrang jalan raya ke toko yang menjual barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari. Kami membeli sabun batang dan bukan sabun cair seperti biasanya. Karena Pak Ipung bilang kalau sabun batang itu lebih tahan lama pemakaiannya dibandingkan dengan sabun cair yang cepat habis. Sedangkan bagi aku, Pak Dadan dan Pak Redy memilih sabun cair karena lebih terjamin kebersihannya sebab penggunaannya tidak bercampur kulit masing-masing orang.

Selain sabun, kami membeli minyak goreng, pemutih untuk mencuci pakaian dan sekantong kacang atom. Jumlahnya Rp. 38 ribu. Aku membayar dengan uang yang diberikan oleh Pak Dadan. Uang Rp. 50 ribu. Aku terima nota pembelian dan uang kembalian Rp. 12 ribu. Rahmat membeli rokok dengan uangnya sendiri.

Selesai berbelanja di toko, kami kembali ke tempat pengisian air isi ulang. Ada tiga galon yang diisi berarti jumlah pembayaran Rp. 15 ribu karena satu galon yang diisi berharga Rp. 5 ribu. Uang yang ada padaku sekarang adalah Rp. 12 ribu dari kembalian berbelanja di toko tadi. Lantas aku tanya ke Pak Dadan, berapa uang yang diberikan kepadaku? Pak Dadan mengirim sms bahwa uang yang diberikan kepadaku adalah Rp. 100 ribu. Aku pun bingung. Uang yang ada padaku hanya Rp. 50 ribu dan sekarang tidak bisa membayar air isi ulang karena kurang Rp. 3 ribu. Alhamdulillah, masih ada kupon gratis air galon isi ulang. Setiap isi ulang air galon mendapat kupon. Kalau kupon sudah berjumlah 5 buah maka akan mendapatkan isi ulang air gratis satu galon. Kupon itu disimpan Rahmat di mobil. Jumlahnya sudah lebih dari lima kupon. Akhirnya, aku cukup membayar Rp. 10 ribu ditambah dengan kupon lima buah.

Aku kembali ke toko. Menanyakan kepada pelayan di sana apakah menemukan uang Rp. 50 ribu. Mungkin terjatuh di lantai atau ketika aku membayar tadi terdapat uang dua lembar Rp. 50 ribu. Setelah dicari beberapa saat ternyata tidak ada uang yang dimaksud. Sedangkan untuk pembayaran tadi pelayan itu yakin bahwa uang yang diberikan hanya selembar. Aku keluar toko. Rahmat menghampiriku. Dia juga melihat kalau aku membayar dengan uang selembar Rp. 50 ribu dan bukan dua lembar. Lalu, kami pun pulang. Hatiku terus bimbang.

Aku kirim sms ke Pak Dadan menanyakan kembali apakah dirinya benar-benar memberikan uang kepadaku dua lembar Rp. 50 ribu. Tidak ada balasan darinya. Aku semakin bimbang. Sampai di mes. Aku letakkan barang belanjaan di tempat biasa. Kemudian aku menemui Pak Dadan untuk melapor. Pak Dadan masih yakin kalau dirinya memberikan uang dua lembar Rp. 50 ribu karena uang itu diambil dari dompetnya. Sisa uang di dompetnya pas jumlahnya bila dikurangi Rp. 100 ribu yang diberikan kepadaku. Aku pun merasa bertanggungjawab. Aku mau menggantinya. Pak Dadan setuju. Tapi, aku diberi keringanan hanya mengganti 50 % dari uang yang hilang. Berarti aku cukup mengganti Rp. 25 ribu saja. Sisanya ditanggung oleh Pak Dadan.

Alhamdulillah. Ini adalah musibah yang setiap orang bisa mengalaminya. Dalam hal ini maka membantu orang yang terkena musibah merupakan satu akhlak terpuji. Dan, bagi yang membantu maupun yang menerima bantuan mesti berkeyakinan bahwa pertolongan itu datangnya dari Allah. Dengan begitu, maka semua akan bernilai ibadah. Bagi yang memberikan bantuan mesti bersyukur dipilih Allah untuk menyampaikan bantuan Allah. Jangan takabur bahwa merasa dirinya yang membantu. Oh, tidak! Allah yang membantu lewat dirinya. Mudah saja bagi Allah memberikan bantuan lewat orang lain karena semua makhluk milik Allah. Bagi yang menerima bantuan harus merasa bahwa bantuan itu berasal dari Allah semata dan bukan berasal dari orang yang memberikan bantuan itu. Pada akhirnya orang yang menerima bantuan tidak merasa berhutang budi karena bantuan itu adalah kehendak Allah.

Aku coba membesarkan hati. Kembali ke konsep dasar bahwa sesungguhnya semuanya milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Konsep ini diambil dari Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 155 – 157. Pada ayat 155 Allah menerangkan bahwa akan memberikan bermacam ujian dalam kehidupan ini untuk melihat siapa saja yang bersabar. Pada ayat 156 Allah menjelaskan ciri orang yang bersabar yaitu ketika menerima musibah berkata dengan keyakinan di hati, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali). Pada ayat 157 Allah menerangkan kabar gembira bagi orang yang bersabar bahwa mereka mendapat keberkatan sempurna dan rahmat dari Allah sebagai tanda orang yang mendapat petunjuk-Nya.

Jika kita sudah yakin dengan konsep dasar di atas maka tak ada kerisauan lagi dalam hidup ini. Masalahnya yang ada sekarang adalah kita merasa bahwa segala sesuatu itu milik kita. Misalnya, merasa harta yang kita miliki adalah harta kita. Orangtua yang telah dikaruniai anak merasa itu adalah anaknya. Pasangan hidup yang telah dinikahi adalah milik kita. Inilah yang membuat kita jadi merasa kehilangan bila apa yang telah kita miliki itu hilang. Padahal hakikatnya adalah semua itu milik Allah semata. Kita punya harta karena Allah Maha Pemberi Rejeki. Anak itu juga hanya titipan Allah kepada orangtua. Pasangan hidup ada karena Allah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan.

Contoh kalau segalanya milik Allah adalah cerita di atas. Aku tidak bisa mencegah uang untuk belanja itu hilang begitu saja tanpa ada satu orang pun antara aku dan Rahmat yang ingat. Begitupun dengan anak. Orangtua merasa khawatir tentang anaknya jika ingin pergi meninggalkannya. Misalkan orangtua ingin berangkat Haji. Hatinya risau tentang nasib anaknya di rumah. Padahal, dalam hati anaknya itu merasa senang orangtua mereka pergi dari rumah. Bukan karena senang orangtuanya pergi beribadah Haji, melainkan pergi dari rumah supaya anak merasa bebas untuk beraktivitas. Karena jika orangtua di rumah maka semuanya dibatasi. Seorang ayah, meski berada di rumah tapi pikirannya masih berada di luar rumah. Sejak bangun tidur sang ayah kerjaannya masih saja menelpon rekan kerja menanyakan bisnis hingga tak terasa waktu sudah menjelang tidur malam hari. Ibu juga begitu. Ibu ada di rumah tapi sukanya memerintah anaknya. Sebentar-sebentar menyuruh anaknya ambilkan ini-itu sehingga di antara anak suka bercanda: awas, nanti disuruh ibu!

Pasangan hidup hakikatnya juga bukan milik kita. Alkisah, beberapa tahun yang lalu. Sepasang calon suami isteri sudah menyiapkan pernikahan. Tinggal seminggu lagi acara pernikahannya berlangsung. Undangan pernikahan sudah dicetak dan sebagiannya sudah disebar kepada tetangga dan sanak saudara. Tiba suatu pagi. Sang calon isteri pergi bekerja. Dirinya terlambat beberapa menit untuk berangkat sehingga tertinggal bis umum. Bis yang dituju sedikit jumlahnya karena jarak angkutan yang jauh. Dia diantar oleh adiknya pakai motor ke terminal untuk mengejar bis umum tersebut. Allah menakdirkan sang calon pengantin perempuan mendapat musibah. Terjadi kecelakaan dan dibawa ke RSCM Jakarta. Keluarga dan calon suami pun diberitahu. Sang calon suami segera meluncur ke RSCM. Ditemani oleh sang ibu dan adik dari keluarga sang calon isteri. Sampai akhirnya Allah mengambil nyawa sang calon isteri. Kesibukan beralih dari RSCM ke rumah keluarga dari sang calon isteri. Setelah selesai mengurus jenazah, sang calon suami bersandar di bahuku dan bertanya: kenapa semua ini terjadi justru ketika pernikahan sudah di depan mata?

Setiap orang bisa menafsirkan makna dari peristiwa di atas tergantung dari pengetahuan dan pengalaman. Aku pun sudah menafsirkan beberapa kali dengan tafsiran yang berbeda-beda. Dan, hasil penafsiran yang terbaru adalah ternyata benar kalau pasangan hidup itu bukan milik kita, melainkan semuanya milik Allah.

Mari kita simak contoh lainnya. Suatu saat ada iring-iringan jenazah. Jenazah itu kemudian dikuburkan. Seorang perempuan yang ternyata isteri dari jenazah itu terus menangis di atas makam suaminya. Seberapapun kuatnya sang isteri menangis tetap saja tak membuat suaminya hidup kembali. Kenapa? Karena Allah sudah menentukan saat itu waktunya sang suami wafat. Sedangkan sang isteri tidak bisa berbuat apa-apa.

Pangkat dan jabatan juga sebenarnya bukan milik kita. Siapa yang mengira sebelumnya krisis global yang titik episentrumnya berada di Amerika Serikat itu mengakibatkan di seluruh negara di dunia ini terjadi banyak perusahaan yang memecat karyawannya. Artinya, bisa saja kita adalah karyawan yang menjadi bagian dalam pemecatan tersebut dan itu terjadi tiba-tiba tanpa bisa dicegah sebelumunya. Padahal saat ini kita memiliki jabatan yang bagus dan strategis. Kalau sudah begini maka yang bisa kita lakukan adalah menerima kenyataan untuk kehilangan pangkat dan jabatan kita di perusahaan tempat kita bekerja dan mengakui bahwa pangkat jabatan bukan miliki kita karena hakikatnya semua itu milik Allah.

Jika kita kembali kepada konsep dasar bahwa semua ini milik Allah dan akan kembali kepada Allah maka setidaknya ada dua nilai yang bisa dijadikan pijakan. Pertama, yakin dengan sepenuh hati bahwa kita ini adalah milik Allah. Merasa yakin bahwa apapun yang terjadi pada diri kita adalah kuasanya Allah. Yakin bahwa Allah yang mengatur segala urusan kita. Yakin bahwa Allah yang menjamin segala kebutuhan hidup kita. Hanya Allah yang melapangkan dan menyempitkan rejeki kita. Hanya Allah yang menyambungkan atau memutuskan silaturahim antara kita dengan saudara-saudara kita. Dan, hanya Allah yang berkuasa untuk menjodohkan, menahan atau memisahkan kita dengan jodoh yang kita inginkan. Itu yang pertama.

Kedua, yang bisa kita lakukan adalah yakin dengan sepenuh hati bahwa apapun yang yang terjadi pada diri kita adalah mutlak yang terbaik bagi kita karena Allah Maha Sempurna Kebaikannya. Keadaan kaya atau miskin, sehat atau sakit, dihormati atau dihina orang lain, maka yakinlah bahwa semua pemberian Allah itu mutlak yang terbaik untuk kita. Tak perlu sok tahu bahwa apa yang terjadi pada diri kita ini bukan yang terbaik bagi diri kita sendiri karena pada hakikatnya kita tidak tahu apa-apa tentang diri kita sendiri dibandingkan dengan Allah Yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu. Bagaimana mungkin Allah tidak tahu apa-apa tentang diri kita sedangkan Allah sendiri yang menciptakan dan memelihara diri kita.

Dua nilai dasar ini, yaitu yakin bahwa semua ini milik Allah dan apapun yang terjadi mutlak yang terbaik bagi kita, maka hidup kita pun menjadi tenang. Tak perlu risau lagi karena yakin bahwa segala urusan dalam hidup ini sudah diatur oleh Allah. Apapun yang terjadi maka kita terima saja karena itu adalah yang terbaik yang diberikan Allah untuk kita. Dan, kata kunci kebaikannya adalah semua yang terjadi membuat kita semakin tunduk, patuh dan taat hanya kepada Allah semata. Itu saja.

17 Desember, 2008 Ditulis oleh agus triyatno | catatan perjalanan | , , , , , | Belum Ada Tanggapan