agus triyatno

sebuah catatan perjalanan hidup

Pemberangkatan

Ahad, 2 November 2008. Aku berangkat ke Bandara Soekarno Hatta jam 6 WIB. Bahkan mobil taxi Blue Bird yang sudah aku pesan malam sebelumnya sudah datang setengah jam lebih cepat. Setelah sarapan aku berpamitan dengan bapak ibuku. Ibuku yang mengantar aku hingga masuk mobil taxi. Mobil pun meluncur. Aku sempat kembali lagi ke rumah untuk menaruh hp esia yang terbawa olehku. Bagiku hp esia tidak berguna di tempat tujuanku karena tidak ada sinyalnya. Kalaupun ada mungkin lemah sekali sinyalnya.

Setengah jam perjalanan sudah sampai Bandara. Aku segera menelpon kawan kantor yang akan berangkat ke Dumai bersama-sama denganku. Ternyata kawanku itu sudah berada di dalam Bandara. Aku segera masuk ke dalam juga untuk mengurus administrasi tiket. Setelah itu aku bertemu muka dengan kawanku. Segera kami boarding dengan membayar Rp. 30,000,.

Baru jam 7 WIB. Masih ada 1 jam lagi menunggu keberangkatan ke Pekanbaru Riau. Selama menunggu itu aku ngobrol dengan kawanku itu mengenai pekerjaan yang akan dijalani di Dumai. Sambil diselingin ke toilet untuk memenuhi hajat alami.

Pesawat Batavia Air tiba tepat waktu. Kami segera naik pesawat. Aku dan kawanku itu berjauhan tempat duduk karena kawanku lebih dulu mengurus tiket. Pesawat tinggal landas. Kini yang terlihat adalah keagungan Allah Sang Pencipta Langit dan Bumi. Awan putih menghiasi langit biru. Maha Suci Allah. Tak jemu aku memandang ke arah luar jendela hingga mata ini yang lelah sendiri dan tertutup. Aku tertidur.

Aku terbangun ketika Pramugari datang memberikan roti dan air minum. Aku terima itu. Aku makan roti dan minum air. Perjalanan yang menempuh hampir 2 jam ini memang membuat aku lapar.

Sampai di Bandara Pekanbaru Riau. Aku menelpon ibuku memberitakan kalau aku sudah di Pekanbaru Riau dengan selamat atas pertolongan Allah. Dari Bandara Pekanbaru ini kami melanjutkan dengan menumpang taxi KOPSI menuju agen travel KOPSI yang akan mengantar kami ke Dumai. Dari Pekanbaru ke Dumai masih sekitar 4 jam perjalanan. Ternyata kami tertinggal mobil travel. Ada lagi jadwal pemberangkatan jam 14 WIB. Berarti itu masih 3 jam lagi. Kami pun setuju karena itu satu-satu mobil yang bisa membawa kami ke Dumai. Selama menunggu keberangkatan itu kawanku mengajak aku untuk ke Mall Pekanbaru. Dengan diantar mobil travel KOPSI yang dibayar Rp. 20,000, kami pun berangkat.

Tak ada tempat yang nyaman selain ada buku di sana. Begitupun dengan di Mall Pekanbaru ini. Aku segera minta diantar ke toko buku Gramedia dan mempersilakan kawanku itu keliling mall jika mau. Tapi, kawanku itu pun mau tinggal di Gramedia juga. Kami pun sepakat ke Gramedia.

Di toko buku Gramedia ada beberapa buku yang menarik perhatianku. Di antaranya adalah Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya, dan buku tentang Kota Salatiga serta buku tentang Asma Al Husna. Aku membeli buku tentang Kota Salatiga dan buku tentang Asma Al Husna.

Setelah puas di Gramedia kami segera menuju tempat shalat di mall untuk shalat jama’ qashar zuhur dan ashar. Setelah shalat kami keluar mall dan mencari tempat makan. Di Pekanbaru ini dan nantinya juga di Dumai banyak rumah makan Padang dan Jawa. Kami pun makan di RM. Jam Gadang di samping Mall Pekanbaru jalan Teuku Umar.

Di sinilah aku menelpon seorang perempuan yang aku sayangi meskipun perempuan itu sudah tidak lagi menyayangi aku lagi. Aku telpon dia. Ada nada sambung. Setelah lama terdengar nada sambung tiba-tiba saja dialihkan. Ternyata dia tidak mau menerima telepon dariku. Padahal aku hanya ingin berpamitan dan mohon doa atas perjalananku ke Dumai Riau. Aku mengetahui bahwa pada saat aku menelpon itu sedang ada kawan lelaki di kantornya. Aku pun mengetahui bahwa kawan lelaki itu mengantarkan perempuan itu ziarah ke makam Papahnya di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta Selatan. Semua yang dilakukan kawan lelakinya itu adalah kebiasaan-kebiasaan yang aku lakukan sebelum perempuan yang aku sayangi ini memutuskan hubungan denganku. Padahal keluargaku sudah siap untuk melamarnya.

Maha Suci Allah Yang Maha Sempurna. Dialah yang mengatur semua episode kehidupan. Aku pun menyadari bahwa aku dan perempuan yang aku sayangi bukanlah milikku. Kami semua adalah milik Allah. Jadi, terserah Allah saja mau diapakan. Aku yakin bahwa Allah menentukan epsiode kehidupanku seperti ini adalah yang terbaik yang diberikan oleh Allah kepadaku. Kalau kita menolak ketentuan Allah ini tak akan merubah apapun. Hanya akan membuat hati merana selamanya karena segala ketentuan Allah pasti terjadi. Oleh karena itu, aku harus bisa menerima apapun ketentuan Allah. Yang penting sekarang adalah aku bisa terus dekat dengan Allah. Bisa mencintai dan dicintai Allah. Menyayangi dan disayangi Allah. Mengharap cinta dan sayang semata-mata dari makhluk Allah tak bermanfaat karena hanya Allah Arrahman Arrahiim, Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan, hanya Allah yang menggerakkan makhluk-Nya untuk saling mencintai dan menyayangi.

Ketika aku tidak bisa menelpon perempuan yang aku sayangi itu maka aku hanya kirimkan sms padanya. Isinya kabar bahwa aku kerja di Riau selama 3 bulan ke depan. Entah sampai atau tidak sms ini padanya itu adalah kuasa Allah.

Kami dijemput lagi oleh agen travel KOPSI setelah makan. Sampai di tempat agen KOPSI kami langsung berangkat ke Dumai. Sudah ada 3 orang. Kami naik mobil Panther. Aku dan kawanku duduk di bagian belakang yang sempit. Mobil itu tidak langsung menuju ke Dumai melainkan menjemput dua orang lagi yang sudah memesan kursi. Setelah terpenuhi pesanannya barulah kami berangkat ke Dumai melintasi lajur Lintas Timur Sumatera.

Allah Al Wakiil, Yang Maha Penolong. Atas pertolongan Allah kami selamat dari kecelakaan mobil di saat mobil kami sudah berhadapan dari mobil yang berlawanan arah karena mau mendahului mobil di depannya.

Kami istirahat di daerah bernama Duri selama 30 menit. Berbincang-bincang sejenak dengan penumpang perempuan. Dia baru saja muntah karena mabuk perjalanan. Memang lajur yang kami lewati itu berliku dan banyak jalan rusak. Aku bertanya kepadanya tentang masakan asli Riau yang terkenal dan kenapa banyak RM Padang. Menurutnya, masakan orang Melayu khas Riau itu hampir tidak ada dan memang rasanya tidak enak. Kalaupun ada jorok orangnya.

Kami melanjutkan perjalanan. Masih sekitar 1 jam perjalanan ke Dumai dari Duri. Kali ini perjalanan agak tenang karena jalanannya bagus dan banyak lajur lurus. Sampai di Dumai langit sudah hitam. Adzan Maghrib baru saja mengalun. Ternyata di sini waktu shalat lebih lambat dibandingkan di Jakarta.

Rumah tujuanku berada di Jl. Anggur nomor 21 C dekat Jl. Ombak. Di Jl. Ombak ini banyak sekali penjual makanan. Di rumah kontrakan ini kami di sambut oleh Pak Ipung dan Pak Muslimin. Mereka adalah atasanku. Setelah berbincang-bincang sejenak kami pun makan malam. Aku shalat Maghrib dan Isya. Setelah itu istirahat. Aku belum mandi karena air di sumur berwarna kuning seperti air kali. Setelah larut malam barulah penjual air bersih itu datang. Air itu aku gunakan pagi-pagi untuk mandi.

11 November, 2008 - Ditulis oleh agus triyatno | catatan perjalanan | , , , , | 1 Komentar

1 Komentar »

  1. semoga banyak dapat bekal hidup di riau brur

    Komentar oleh yearry | 14 November, 2008


Tinggalkan komentar