Aku, Kau dan Buku
Kalau aku tidak disuruh oleh kawan untuk membuat facebook mungkin sampai saat ini juga aku tak pernah menoleh sedikitpun tentang facebook itu. Sekarang aku sudah mencicipi facebook ini. Baru beberapa hari. Hari pertama yang aku lakukan dengan facebook ini adalah mencari kawan sebanyak-banyaknya. Pada hari pertama itu pula aku senang hati. Betapa tidak. Aku mencari dirimu dan aku menemukannya. Menemukan dirimu di facebook ini. Entah mengapa setiap diriku merasa lelah, tak bersemangat maka ketika aku bertemu sosok dirimu tak terasa diri ini menjadi bersemangat kembali. Merasa bahwa diri ini belum berarti apa-apa dibandingkan dirimu. Padahal usia dirimu masih terhitung muda. Meski aku tak tahu pasti berapa usiamu saat ini.
Mengenal sosok dirimu pasti tak jauh dari buku. Menulis, membaca, menerbitkan, dan menjual buku. Aku belum pernah bertemu denganmu secara langsung tatap muka. Sampai aku menuliskan anganku bertemu denganmu secara misterius dalam sebuah perjalanan Bandung – Yogyakarta.
Dengan ragu-ragu akhirnya aku menyapamu. Aku ragu karena takut kau tak akan membalas sapaanku. Ketika aku memintamu untuk menjadi kawanku di facebook ini pun aku ragu. Aku ragu kau tak mau menjadi kawanku. Namamu terkenal. Hanya namamu. Sosok dirimu tetap bersembunyi dalam kemasyuran namamu. Tulisanmu bertebaran di sejumlah media cetak. Mengetik namamu di mesin pencari internet Google banyak situs menampilkan namamu. Lagi-lagi hanya namamu dan tak ada gambar tentang sosok dirimu. Sepertinya sosok dirimu tak mau dikenal dan cukup namamu saja yang dicatatkan dalam lembaran sejarah. Memang diri kita akan musnah dan hanya nama kita yang akan abadi terukir diatas batu nisan.
Kemasyuran namamu itulah yang terkadang membuat diriku ragu berkawan denganmu. Sekali ada kesempatan berkawan dan bicara denganmu maka senanglah hatiku. Aku mengenal dirimu dari sebuah buku. Ah, lagi-lagi karena buku. Buku yang kau tuliskan benar-benar membekas pada diriku. Buku itu dibawa dari Kakakku yang kuliah di ujung bawah Pulau Sumatera. Meski yang aku tahu bahwa kau lebih banyak tinggal di Kota Gudeg.
Dari cerita di bukumu itulah aku menjadi pemalu. Bagaimana tidak malu? Kau seperti menelanjangi diriku pada cerita itu. Aku seperti dirimu. Menjadi pemalu ketika sebuah pertanyaan sederhana dan polos itu mengemuka. “Buku apa yang pernah dibaca?” atau “Punya buku apa saja?”
Kau mengaku anak desa dari Pulau Sulawesi yang jauh dari jangkauan buku. Padahal orangtuamu begitu membesarkan dirimu saat kakak-kakak mahasiswa itu datang kunjungan kuliah kerja nyata (KKN). Kau juara kelas. Tapi kebesaran dirimu rontok ketika kakak mahasiswa itu bertanya buku apa yang kau punya. Kau bersembunyi di dalam rumah dan menangis.
Aku pun sama seperti dirimu. “Buku apa yang aku punya?” Saat membaca bukumu itu aku masih berstatus mahasiswa. Sebagai mahasiswa, aku jarang membaca buku. Apalagi untuk memilikinya. Ketika pertanyaan itu mengganggu pikiranku maka aku pun bersedih. Mahasiswa tak baca buku? Apalagi tak pernah beli buku? Padahal kerjanya mahasiswa itu membaca dan menulis. Membaca dan menulis pasti berkait erat dengan buku. Aku tak bisa membeli buku saat itu. Tapi, seorang kawan di tempat kos amat membantuku. Dia suka membeli buku tapi jarang membacanya. Tiap dia membeli buku maka aku membacanya. Bahkan aku duluan yang membacanya dibandingkan yang empunya buku. Aku baca buku apa saja sampai airmata ini menetes bukan karena terharu membaca cerita di buku melainkan kelelahan membaca buku. Sejak saat itu pula aku menjadi menyukai buku.
Ah, kisahmu itu menarik bagiku. Mungkin jika Mira Lesmana si produser film itu membaca bukumu mungkin tertarik membuat film dari cerita bukumu itu seperti kisah Laskar Pelangi yang pernah ditulis oleh Andrea Hirata.
Sekarang buku menjadi kesukaanku. Setiap aku melancong ke daerah maka seperti mata ini memiliki radar untuk mencari dimana buku berada. Letak toko buku, perpustakaan, selalu menjadi pertanyaan ketika aku berada di daerah. Sewaktu aku di Fak Fak nampak perpustakaan daerahnya saat aku melintas menumpang angkutan kota. Aku telah menjadi anggotanya. Di Makasar tanpa sengaja saat makan pisang pepe malam hari bertemu dengan perpustakaan daerah karena tempat orang yang berjualan pisang pepe yang katanya terkenal di Makasar berada di depan gedung perpustakaan.
Sekarang ini aku singgah di pinggiran kota Dumai. Saat aku menemani kawan ke tengah kota Dumai, kawanku ini singgah di pangkas rambut Gaul yang terletak di jalan Ombak. Aku tak bernafsu untuk ikut potong rambut. Tapi yang aku lirik adalah toko buku Dwi Media yang berada tepat di seberang tempat pangkas rambut itu. Aku berlari menyebrang jalan. Memasuki toko itu. Ada komik, novel terjemahan, novel remaja, buku agama, buku pelajaran sekolah, psikologi, sejarah, politik, dan novel Indonesia. Dari jenisnya memang nampak banyak buku di sini. Tapi, bila dicermati dari penerbitnya maka kentara dominasi dua penerbit yaitu group Gramedia dan Mizan.
Aku melirik ke buku agama. Ternyata ada Al Qur’an saku lengkap dengan terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Asy Syamil. Sudah lama aku ingin membelinya. Pernah aku mencarinya di toko buku Islam Multazam di jalan Baru Dumai hanya saja saat itu sudah habis terjual. Aku tengok uang di saku kemeja. Ah, ternyata tak cukup jumlahnya untuk membeli Al Qur’an ini. Akhirnya aku hanya bisa memandanginya saja. Mudah-mudahan masih dapat barokahnya.
Saat melihat sekeliling ruang toko buku ini datanglah pengunjung lain. Seorang pemuda berkemeja lengan pendek yang dimasukkan ke dalam celana panjang. Kakinya terbungkus sepatu kulit. Seperti karyawan. Penjaga toko yang semuanya perempuan itu menghampiri. Menanyakan keperluan pemuda itu. Pemuda itu menyebutkan buku yang dicari yaitu buku komik One Piece. Sayangnya komik yang dicarinya itu tidak ada persediaan dan pemuda itu diminta menunggu paling cepat dua minggu baru tersedia kembali. Pemuda itu nampak kecewa dan keluar dari toko.
Setelah pemuda itu keluar toko, para penjaga toko tertawa melihat tingkah pemuda tadi. Para penjaga toko tak menyangka kalau pemuda itu mencari buku komik. Tak pantas rasanya seorang pemuda membeli buku komik. Seperti anak-anak saja. Mungkin masa kanak-kanaknya kurang bahagia. Begitulah kira-kira obrolan para penjaga toko.
Aku keluar dari toko dan memikirkan kejadian tadi. Bagiku sendiri tak masalah jika seorang pemuda atau orang dewasa membeli komik. Mungkin juga pemuda itu membelikan komik untuk anak, adik atau ponakannya. Bisa saja kan? Atau, kalau memang untuk dirinya sendiri bagiku tak masalah seorang pemuda membeli komik. Itu hanya masalah selera saja. Aku suka dunia anak-anak meski aku tak suka komik. Sekali lagi, ini hanya masalah selera aku saja.
Sebenarnya yang lebih menjadi pikiranku adalah kekecewaan pemuda tadi yang susah mendapatkan buku yang diinginkannya. Harus menunggu lama untuk mendapatkan buku. Aku sendiri heran. Dumai adalah kota pelabuhan yang memiliki pendapatan daerah sangat besar melalui minyak. Letaknya juga sangat dekat dengan Malaysia. Justru tadinya aku berharap di Dumai berserakan buku-buku luar negeri karena letaknya yang dekat dengan Negeri Jiran itu. Tapi dugaanku meleset setelah berkunjung ke toko buku tadi. Yang banyak beredar justru malah makanan produk Malaysia.
Di pangkas rambut Gaul itu aku meminjam uang kepada kawanku. Setelah mendapatkan pinjaman uang, aku kembali ke dalam toko. Hanya sebentar. Setelah itu keluar lagi sambil menenteng Al Qur’an terbitan Asy Syamil. Sebenarnya aku ingin ceritakan semua kisahku tadi padamu karena aku tahu kau sangat peduli tentang buku. Tapi, sekali lagi aku ragu. Takut kalau kau tak mau menanggapi. Jadi malu sendiri nantinya. Sudahlah, biar aku tuliskan sendiri kisahku ini. Karena aku tahu kau suka menuliskan kisah orang yang bercerita padamu.
Aku berharap bisa terus menjadi pemuja rahasiamu. Tak apalah aku kenal sosokmu dari karya tulismu. Aku sudah senang. Tetaplah semangat. Bila kau melemah mungkin aku lebih lemah lagi. Buku baru yang kau sunting tentang Lekra diboikot oleh grup Gramedia karena gambar sampul Palu Arit. Sekarang buku itu banyak mengisi ruang di gudangmu. Istilah yang kau katakan padaku, “mangkrak di gudang setelah Gramedia tak menerimanya.”
Meski begitu, semangatmu tak hilang. Kau menulis:
“Tapi lelahnya sudah hilang… itu sudah cukup. Bahwa buku sanggahan terhadap kekisruhan pandangan atas itu pernah ada. Menulisnya capek sekali itu. Tugas nasional saya membantah pandangan buku hitam Prahara Budaya kukira telah kutunaikan. Itu impian saya sejak mahasiswa: bagaimana membantah buku prahara Budaya itu….”
Belum ada komentar.
Tinggalkan komentar
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- April 2009 (3)
- Februari 2009 (2)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (6)
- November 2008 (18)
- Oktober 2008 (3)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS