Bocah Ramai Mengaji
Masih di kota Dumai, Riau. Beberapa hari terkurung dalam kamar hotel sebenarnya tak terlalu betul bagi kehidupanku belakangan ini. Memang tak ada kepastian hukum bahwa aku mesti tinggal di kamar hotel sepanjang hari. Tapi, ini dari diriku sendiri. Tak enak rasanya meninggalkan dua orang kawanku di kamar hotel. Kami bukan sedang liburan. Tapi, menghindari konflik dengan agen dan petani sawit yang belum kami bayar sawitnya. Sudah lebih seminggu belum kami bayar. Jumlahnya mungkin sekarang sudah melewati angka satu miliar rupiah.
Kami keluar hotel kala harus memenuhi ruang perut kami dengan makanan dan minuman. Sedang bagiku pribadi, aku keluar hotel juga saat menunaikan shalat lima waktu. Kebetulan ada masjid dekat hotel.
Setelah melewati beberapa hari dalam rutinitas yang sama maka aku mulai bisa menuliskan kejadian berulang di masjid. Biasanya adzan subuh dua kali. Kemudian ada jeda waktu menjelang iqamat untuk menyilakan jamaah untuk shalat sunat sebelum shalat subuh. Di sini shalat subuh tak pakai do’a qunut. Maklum masjid ini terletak di lingkungan sekolah milik yayasan Muhammadiyah.
Memasuki shalat zuhur ada jeda waktu yang sama dengan waktu subuh. Jamaah diberi kesempatan mengerjakan shalat sunat sebelum shalat wajib. Begitu juga dengan shalat ashar.
Beda dengan shalat maghrib dan isya’. Tak ada toleransi untuk shalat sunat sebelum shalat wajib. Setelah adzan, berdoa sebentar, langsung iqamat.
Setelah shalat maghrib, suasana di majid riuh rendah dengan suara bocah yang belajar mengaji. Lelaki perempuan jadi satu. Tumplek blek. Duduk di lantai. Membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Lingkaran itu berdasarkan usia. Materi pelajaran pun berbeda antar kelompok. Malam ini terdengar suara orang ramai mengaji Al Qur’an dan menghapal bacaan shalat. Ah, rasanya sudah lama aku tak menjumpai hal seperti ini lagi di kota yang biasa aku lintasi di pusaran Jabodetabek.
Saat melintasi bocah-bocah yang sedang belajar mengaji itu nampak suara meninggi sedang marah-marah. Gurunya masih muda. Mungkin sekolah setingkat SMP atau SMU. Menghadapi dua bocah laki-laki. Jika dilihat dari keseluruhan murid yang belajar, dua bocah laki-laki ini paling besar tubuhnya.
Guru muda tadi memegang gagang yang mungkin bambu atau rotan. Selama mengajar tak pernah lepas tangannya memegang itu. Dua bocah laki-laki tadi nampaknya sedang dihukum oleh Guru muda tadi. Lucunya, dua bocah laki-laki tadi mengangkat salah satu kaki masing-masing. Aduh, aku berpikir ternyata masih ada saja hukuman seperti itu.
Aku terus berjalan keluar masjid. Kembali ke kamar hotel. Suara riuh rendah bocah-bocah mengaji sudah mulai pelan terdengar. Berganti suara burung wallet yang sekarang mengiringi langkahku.
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Juli 2011 (1)
- April 2009 (3)
- Februari 2009 (2)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (6)
- November 2008 (18)
- Oktober 2008 (3)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS